Apa tujuan hidup manusia di dunia ini?
Tujuan hidup yang sangat sering kita dengar adalah menjadi orang sukses dan
bermanfaat bagi orang lain, kaya, berpendidikan, memiliki kedudukan, menikah
dan punya keturunan yang baik dan seterusnya.
Tidak ada salahnya memiliki tujuan hidup
atau cita-cita seperti itu yang memang diperlukan untuk menyemangati hidup kita
di dunia ini untuk akhirnya menjadi berhasil meraih cita-cita dan mencapai
tujuan hidup masing-masing.
Namun seorang muslim harus menyadari
bahwa kehidupan kita di alam dunia ini hanya merupakan sebuah fase kehidupan di
mana kita diuji dengan kenikmatan dan musibah sebagai tolok ukur untuk
mendapatkan tempat yang sesuai di alam akhirat nanti.
Bila kita percaya adanya akhirat, maka
sudahlah pasti setiap orang menginginkan surga sebagai tempatnya kelak.
Petunjuk untuk mendapat surga secara lengkap terdapat dalam Al-Qur’an. Dan bila
kita ikuti petunjuk dalam Al-Qur’an dapat dipastikan kita mendapat surga dengan
menjadi orang yang bertaqwa padaNya.
Maukah anda mendapatkan sesuatu yang
lebih besar keberuntungannya dibanding surga? Allah berfirman:
“Allah menjanjikan kepada orang-orang
mu’min lelaki dan perempuan,
(akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,
kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di Surga ‘Adn.
(akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,
kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di Surga ‘Adn.
Dan keridhaan Allah adalah lebih besar;
itu adalah keberuntungan yang besar”
~ QS 9 – At Taubah : 72 ~
Surat dan ayat diatas menyiratkan bahwa
ridho Allah lebih besar nilainya dari surga. Artinya bila kita ingin sejahtera
dunia akhirat maka yang utama harus kita cari adalah ridho Allah. Dengan
mendapat ridho Allah maka barulah kita akan mendapat pahala dariNya (QS 4 – An
Nisaa’ : 114). Tidak mungkin kita mendapat pahala dari setiap perbuatan baik
kita tanpa ridhoNya.
Ridho Allah artinya; disenangi, disukai,
dicintai, disetujui, dipilih oleh Allah SWT. Dalam Al-Qur’anpun terdapat
petunjuk mengenai bagaimana mencari ridho Allah ini. Antara lain disebutkan
bahwa:
Seseorang yang memberi tanpa
mengharapkan balasan atau ucapan terima kasih adalah orang yang mengharapkan
ridho Allah (QS 76 – Al Insaan : 9).
Orang-orang yang berbuat curang dan tidak jujur dalam berdagang akan celaka alias tidak mendapat ridho Allah (QS 83 – Al Muthaffifiin : 1 – 3).
Orang-orang yang berjihad mencari keridhoan Allah akan sukses, karena selalu ditunjukkan jalan keluar bagi setiap permasalahan bagi orang yang berbuat baik (QS 29 – Al Ankabuut : 69).
Ada orang yang mengorbankan diri (harta, waktu, tenaga, perasaan kecuali bunuh diri) demi mencari ridho Allah (QS 2 – Al Baqarah : 207).
Ridho Allah lebih besar nilainya dari surga (QS 9 – At Taubah : 72 ).
Orang pilihan (diridhoi) akan mewarisi kitab (Al-Qur’an) (QS 35 – Faathir : 32)
Orang-orang yang berbuat curang dan tidak jujur dalam berdagang akan celaka alias tidak mendapat ridho Allah (QS 83 – Al Muthaffifiin : 1 – 3).
Orang-orang yang berjihad mencari keridhoan Allah akan sukses, karena selalu ditunjukkan jalan keluar bagi setiap permasalahan bagi orang yang berbuat baik (QS 29 – Al Ankabuut : 69).
Ada orang yang mengorbankan diri (harta, waktu, tenaga, perasaan kecuali bunuh diri) demi mencari ridho Allah (QS 2 – Al Baqarah : 207).
Ridho Allah lebih besar nilainya dari surga (QS 9 – At Taubah : 72 ).
Orang pilihan (diridhoi) akan mewarisi kitab (Al-Qur’an) (QS 35 – Faathir : 32)
SYARAT SYARAT MENDAPAT RIDHO ALLAH
Syarat-syarat untuk mendapat ridho Allah
ada dalam konsep IMTAQ (Iman dan Taqwa):
Iman kepada Allah SWT
Penyempurnaan iman kepada Allah dengan cara taat, patuh kepada Allah SWT = bertaqwa
Niat untuk mendapat ridho Allah
Penyempurnaan iman kepada Allah dengan cara taat, patuh kepada Allah SWT = bertaqwa
Niat untuk mendapat ridho Allah
Petunjuk mengenai imtaq selengkapnya ada
dalam Al-Qur’an. Oleh karenanya Allah memerintahkan kita untuk membaca
Al-Qur’an (QS 29 – Al Ankabuut : 45) untuk mendapat ridhoNya. Allah juga
memberikan perintah/petunjuk yang terinci mengenai bagaimana kita harus
memanfaatkan Al-Qur’an, yaitu sebagai berikut:
Memiliki Al Qur’an (QS 68 – Al Qalam :
37)
Membaca Al Qur’an (QS 29 – Al Ankabuut : 45)
Mempelajari atau tadarus Al Qur’an (QS 3 – Ali Imran : 79)
Memahami dan mengerti Al Qur’an (QS 12 – Yusuf : 1 – 2)
Mengamalkan/mengerjakan/melaksanakan perintah dan larangan dalam Al-Qur’an (QS 6 - Al An’aam : 155)
Menyebarkan kandungan Al-Qur’an alias berdakwah (QS 5 - Al Maa-idah : 67)
Terus menerus atau melestarikan kegiatan 1 s/d 6 sampai tiba ajal (QS 15 Al Hijr : 99)
Membaca Al Qur’an (QS 29 – Al Ankabuut : 45)
Mempelajari atau tadarus Al Qur’an (QS 3 – Ali Imran : 79)
Memahami dan mengerti Al Qur’an (QS 12 – Yusuf : 1 – 2)
Mengamalkan/mengerjakan/melaksanakan perintah dan larangan dalam Al-Qur’an (QS 6 - Al An’aam : 155)
Menyebarkan kandungan Al-Qur’an alias berdakwah (QS 5 - Al Maa-idah : 67)
Terus menerus atau melestarikan kegiatan 1 s/d 6 sampai tiba ajal (QS 15 Al Hijr : 99)
KESIMPULAN
Tujuan hidup kita adalah mendapat ridho
Allah
Setiap aktivitas kita dalam mencapai kesuksesan dan cita-cita hidup di dunia harus dalam rangka mendapat ridho Allah SWT.
Petunjuk, cara, contoh orang yang mendapat ridho Allah dan sebaliknya mendapat laknat Allah ada dalam Al-Qur’an.
Allah SWT juga memerintahkan kita untuk membaca Al Qur’an agar kita mendapat RidhoNya.
Allah SWT juga memerintahkan kita untuk memiliki, membaca, mempelajari, memahami, mengamalkan Al-Qur’an dan berdakwah selama hayat dikandung badan.
Setiap aktivitas kita dalam mencapai kesuksesan dan cita-cita hidup di dunia harus dalam rangka mendapat ridho Allah SWT.
Petunjuk, cara, contoh orang yang mendapat ridho Allah dan sebaliknya mendapat laknat Allah ada dalam Al-Qur’an.
Allah SWT juga memerintahkan kita untuk membaca Al Qur’an agar kita mendapat RidhoNya.
Allah SWT juga memerintahkan kita untuk memiliki, membaca, mempelajari, memahami, mengamalkan Al-Qur’an dan berdakwah selama hayat dikandung badan.
“ Subhannallah Walhamdulillah
Wala ilaha illallah Allahu Akbar !”
Kita semua menyadari
bahwa HIDUP INI HANYALAH SESAAT. Dan kita akan HIDUP SELAMANYA DI AKHIRAT
kelak. Keadaan inilah yang membangun ’semangat berjibaku’ agar kita semua
MENGELOLA HIDUP yang sesaat ini untuk kebahagiaan selama-lamanya di akhirat,
kelak.
Tidaklah heran, mengapa
orang Mukmin semakin hari semakin bertakwa. Karena merekan tahu dan sadar bahwa
SEMAKIN HARI SEMAKIN DEKAT PERJUMPAAN DENGAN ALLAH SWT. Sehingga hari-harinya
dilalui dengan kesibukan untuk MEMPERBAIKI DIRI dalam kebaikan.
Salah satu usahanya
adalah melahirkan perbaikan dan kebaikan dengan MENGAMALKAN SUNNAH HARIAN
Rasulullah SAW.
Rekan-rekan se-iman,
marilah kita menghentikan sejenak aktifitas kita sehari-hari yang menyibukkan
diri, agar kita dapat sejenak waktu untuk BERHENTI, BERPIKIR, MERENUNG dan
MENCONTOH teladan kita semua RASULULLAH SAW, melalui serial Artikel singkat ” 7
Sunnah Harian NABI SAW ”, agar menjadikan hidup kita lebih bermakna, untuk
mempersiapkan diri kita dalam menghadapi sisa-sisa kehidupan kita.
1. Shalat Tahajud ...
Kita semua mengetahui,
bahwa Shalat Tahajud adalah SHALAT TERAMAT PENTING SETELAH SHALAT FARDHU
(wajib) lima waktu. Karena dengan shalat Tahajud Allah SWT akan MENGANGKAT
DERAJAT kehidupan manusia.
Shalat Tahajud dilakukan
diwaktu malam (setelah tidur) karena disaat malam-sunyi tersebut melakukan
shalat akan LEBIH KHUSYUK dan bacaan di waktu tsb LEBIH BERKESAN.
Al-Isra : 79 ”Dan dari
sebagian malam hendaklah engkau bangun (tahajud), sebagai AMALAN TAMBAHAN
untukmu. Semoga Tuhanmu mengangkat (derajatmu) ke tempat terpuji”.
Abu Huraira R.A
meriwayatkan RASULULLAH SAW bersabda :”Tuhan kita turun SETIAP MALAM ke langit
dunia pada SEPERTIGA MALAM terakhir, dan berfirman – Siapa yang BERDOA
kepada-Ku PASTI AKU KABULKAN, siapa yang MEMOHON kepada-Ku PASTI AKU BERI, dan
siapa yang MEMOHON AMPUN kepada-Ku, PASTI AKU AMPUNI !” (HR. Al-Jama’ah).
Amr bin Al-Ash
meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda : ”Sedekat-dekat hamba kepada Allah SWT
adalah PADA TENGAH MALAM TERAKHIR. Apabila engkau bisa termasuk golongan orang
BERDZIKIR mengingat Allah SWT pada saat itu, maka lakukanlah ” (HR. Al-Hakim).
Salman Al-Farisi
meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda : ”Kerjakanlah shalat malam, sebab itu
adalah KEBIASAAN ORANG SHALEH sebelum kamu, JALAN MENDEKATKAN DIRI kepada
Tuhan, PENEBUS KEJELEKAN, PENCEGAH DOSA, serta PENGHALAU SAKIT ”.
Subhanallah ! Demikian
besarnya keutamaan Shalat Tahajud. Marilah kita mulai rutin lakukan !
Pelaksanaan : - Shalat
malam sebaiknya DILAKUKAN DI RUMAH, bukan di Masjid. - Bacaan shalat malam
BOLEH NYARING dan juga BOLEH PELAN. - Jumlah rakaatnya MINIMAL 2 rakaat, 4, 8,
dst, tidak terbatas. - Diakhiri dengan SHALAT SUNNAH WITIR 3 rakaat, ganjil.
2. Membaca & Mempelajari AL-QUR’AN ...
Rekan Muslim, terjadinya
berbagai masalah kompleks dalam kehidupan pribadi, keluarga, organisasi,
perusahaan dan bernegara, terjadinya karena semua bersumber kepada AL-QUR’AN
TIDAK DIJADIKAN SEBAGAI PETUNJUK dan PEDOMAN HIDUP.
Kinilah saatnya kita
”kembali untuk mendalami” kitab yang bersumber dari Allah SWT! (bukan karangan
manusia !) tersebut.
Al-Qur’an sebaiknya
dipelajari secara SISTEMATIS, diungkap maknanya, digali kandungannya dan isinya
sebagai PEDOMAN HIDUP. Bahkan secara transendental-psikologis, Al-Qur’an harus
didekati secara emosional, MELIBATKAN PERASAAN dalam upaya menyelami makna
terdalam dan hikmah tertinggi yang dimiliki.
”Dan apabila dibacakan
ayat-ayat Allah SWT yang maha Pemurah kepada mereka, mereka MENYUNGKUR,
BERSUJUD dan MENANGIS” (QS. Maryam : 58)
HR.Tirmidzi : ”Al-Quran
adalah kitab Allah SWT yang berisi SEJARAH UMAT sebelum kamu, BERITA UMAT
sesudahmu, kitab yang MEMUTUSKAN/menyelesaikan urusan di antara kamu, yang
nilainya bersifat PASTI & ABSOLUT. Siapa saja yang durhaka
”meninggalkannya” pasti Allah SWT akan ”memusuhinya”. Siapa yang MENCARI
PETUNJUK SELAIN AL-QUR’AN, PASTI AKAN TERSESAT. Al-Qur’an adalah tali Allah
yang sangat kuat, PERINGATAN YANG BIJAKSANA dan JALAN YANG SANGAT LURUS”.
Langkah yang sebaiknya
kita lakukan adalah dengan : - Membacanya - Mencatatnya -
Menghafalnya - Memahaminya - Mengamalkannya
Perlu diingat, bahwa
Al-Qur’an baru terbukti menjadi petunjuk ketika ada KENYATAAN DALAM PRAKTEK
KEHIDUPAN kita. Agar pendalaman Al-Qur’an yang kita lakukan semakin
berimplikasi positif bagi kita dan manusia secara umum, maka dalam
MENGEKSPLOITASI isi, kisah, hikmah Al-Qur’an seharusnya kita belajar kepada
para ulama yang sudah lebih awal dan lebih panjang menadaburi Al-Qur’an termasuk
sejumlah tafsir dan karya tulis.
Sedemikian pentingnya
sebuah kandungan makna/isi Al-Qur’an, sampai Allah SWT berfirman :
”Kalau sekiranya kami
turunkan Al-Qur’an kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya TUNDUK
TERPECAH-PECAH disebabkan TAKUT KEPADA ALLAH SWT. Perumpamaan itu Kami buat
untuk manusia supaya mereka BERPIKIR ! ” (QS. Al-Hasyr : 21)
3. Shalat Shubuh Berjamaah di Masjid ...
Rasulullah SAW
menyampaikan sebuah hadits di hadapan para sahabatnya, ketika menanyakan salah
seorang jamaahnya tidak terlihat dalam shaf shubuh berkali-kali :
”Sungguh, shalat yang
PALING BERAT BAGI ORANG MUNAFIK, adalah shalat Isya dan SHALAT SHUBUH.
Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, mereka pasti
mendatangani keduanya, SEKALIPUN DENGAN MERANGKAK ” (HR. Bukhari-Muslim).
Banyak ulama hadits
menilai tentang penjelasan hadits ini, di antaranya bahwa untuk menilai
seseorang apakah sungguh-SUNGGUH BERIMAN atau malah MUNAFIK, maka dapat dilihat
shalat shubuhnya.
Shalat Shubuh merupakan
satu di antara shalat wajib 5-waktu yang mempunyai KEKHUSUS-AN dan memiliki
KEUTAMAAN yang luar biasa.
1.Merupakan SHALAT
PALING UTAMA yang diwajibkan pada kaum Muslimin. (merupakan shalat yang sejak
awal disyariatkan tetap 2-rakaat).
2.ADZAN shubuh berbeda
dengan adzan shalat wajib lainnya, dengan menambahkan ’Ash-shaltu khairum minan
naum’ – ”shalat itu lebih baik dari tidur, sebanyak 2 kali”.
3. Rasulullah SAW
memberikan DOA KHUSUS setelah shalat shubuh, yang berbeda dengan shalat lain.
Doa ini sebagai tambahan ’wirid’ penutup shalat.
Diriwayatkan oleh Abu
Dzar RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda : ”Siapa mengatakan setelah shalat
shubuh, SEBELUM MENINGGALKAN TEMPAT DUDUKNYA dan BERBICARA SEDIKITPUN – La
ilaha illallahu wahdahu la syarikalah lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yuhyi
wa yumitu wahuwa ala kulli sya in qadir - sebanyak 10X, maka akan ditulis
baginya 10 kebaikan, dihapus 10 kesalahan dan diangkat derajatnya 10 kali lebih
tinggi. Satu hari penuh ia terlindungi dari suatu yg tidak disukai, terlindungi
dari syetan, tidak ada dosa yang pantas dianggap sebagai dosa, kecuali syirik ”
(HR.Tirmidzi).
Rasulullah SAW pernah
menasehati Muslim bin harits : ” Jika kamu shalat shubuh, maka bacalah sebelum
kamu berbicara – Allahumma ajirni minannar (Ya ALLAH lindungilah aku dari api
neraka) – sebanyak 7X, maka jika kamu mati hari itu, ALLAH akan menjauhkanmu
dari api neraka ” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).
4. Rasulullah SAW selalu
MENYURUH MEMENDEKKAN BACAAN shalat, KECUALI SHALAT SHUBUH !Abu Barzah Al-Islami
meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pada shalat shubuh membaca 60 sampai 100 ayat
…..sampai sebentar lagi matahari terbit (HR. Muslim).
5. Rasulullah SAW
mempunyai BACAAN KHUSUS SHALAT SHUBUH di HARI JUMAT ! Abu Huraira meriwayatkan
bahwa Rasulullah SAW membaca pada rakaat pertama SURAH AS-SAJADAH dan rakaat
kedua SURAH AL-INSAN. Keistimewaan ini tidak terjadi pada shalat wajib lainnya
!
6. Shalat shubuh TIDAK
BISA DI-QASAR dan DIJAMAK !
Seperti yang juga kita
pahami dari beberapa hadits, pada saat shalat shubuh inilah pergantiang malam
dan siang dimulai. Pada saat itu pula MALAIKAT MALAM dan SIANG BERKUMPUL dan
BERGANTI TUGAS.
”SHALAT BERJAMAAH LEBIH
UTAMA dari shalat sendirian sebanyak 25 kali lipat. Malaikat penjaga malam dan
siang BERKUMPUL PADA SHALAT SHUBUH” (HR. Bukhari).
ALLAH SWT berfirman :
”Dan dirikanlah SHALAT SHUBUH. Sungguh, shalat shubuh itu DISAKSIKAN OLEH PARA
MALAIKAT” (QS. Al-Isra : 78).
Ada lagi hal utama dalam
shalat shubuh, adalah – DUA RAKAAT SHALAT FAJAR (shalat sunah sebelum atau
qabliyah shubuh) yang LEBIH BAIK DARI DUNIA & SEISINYA (HR. Muslim).
Rasulullah SAW mengistimewakan shalat ini dengan menggambarkan bahwa :
”Seandainya dunia dan seisinya ini adalah sebuah kebaikan, maka JAUH LEBIH BAIK
2 RAKAAT SHALAT FAJAR YANG KITA KERJAKAN” !
Selain itu pula, SHALAT
SHUBUH BERJAMAAH DI MASJID bisa menjadi PENERANG PADA HARI KIAMAT KELAK,
seperti yg disabdakan Rasulullah SAW : ”Berilah kabar gembira bagi orang-orang
YANG BERJALAN DI KEGELAPAN MENUJU MASJID (untuk mengerjakan shalat shubuh)
DENGAN CAHAYA YANG TERANG-BENDERANG (pertolongan) PADA HARI KIAMAT ! ” (HR. Abu
Dawud, Tirmidzi dan Ibn Majah).
Dari semua pengetahuan
kita tentang keutamaan SHALAT SHUBUH BERJAMAAH DI MASJID INI, kesombongan
apalagi pada diri kita yang akan menghalangi untuk menjalankannya ?
4. Melakukan SHALAT DHUHA ...
”Wahai anak Adam,
cukupilah aku dengan melakukan EMPAT RAKAAT SHALAT DHUHA pada pagi hari, maka
aku akan MENCUKUPI KEBUTUHANMU pada akhir hayatmu” (HR Ahmad & Abu Ya’la).
Beliau berwasiat
kepadaku tentang 3 hal, yang sejak itu aku TIDAK PERNAH MENINGGALKANNYA :
Pertama - Hendaknya aku
tidak tidur sebelum mengerjakan SHALAT WITIR
Kedua - Hendaknya aku
tidak meninggalkan dua rakaat SHALAT DHUHA (karena shalat DHUHA adalah shalatnya
’awwabin’-orang yg bertobat kepada ALLAH SWT serta meninggalkan maksiat)
Ketiga - Hendaknya aku
BERPUASA 3 HARI setiap bulan - (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)
Salah satu makna
fungsional shalat DHUHA adalah agar pelakunya MENDAPATKAN REZEKI dan DIJAUHKAN
DARI KEMISKINAN : ”Shalat DHUHA itu mendatangkan rezeki dan menolak kemiskinan,
dan tidak ada yang memelihara shalat kecuali orang-orang bertobat” (HR.
Tirmidzi)
”Siapa yang mengerjakan
shalat DHUHA 2 rakaat – dia TIDAK AKAN dicatat dalam kelompok orang-orang yang
LUPA.
Siapa yang mengerjakan
shalat DHUHA4 rakaat – dia dicatat dalam kelompok orang-orang yang AHLI IBADAH.
Siapa yang mengerjakan
shalat DHUHA 6 rakaat – pada hari itu segala kebutuhannya DICUKUPI oleh ALLAH
SWT.
Siapa yang mengerjakan
shalat DHUHA 8 rakaat – maka ALLAH SWT mencatatnya termasuk golongan yang
TUNDUK dan menghabiskan waktunya untuk BERIBADAH.
Dan, siapa yang
mengerjakan shalat DHUHA 12 rakaat – maka ALLAH SWT membangunkan baginya sebuah
ISTANA INDAH DALAM SURGA.Tidak ada dalam sehari-semalam kecuali ALLAH SWT pasti
MEMBERIKAN ANUGERAH serta SEDEKAH kepada hambaNYA” (HR. Thabrani dan Abu Daud).
Subhanallah !
5. BERSEDEKAH ...
Maha suci ALLAH SWT, ZAT
yang telah membersihkan hati orang-orang beriman dari sifat angkuh dan serakah.
ALLAH SWT lah yang menyelipkan ke sanubari orang beriman perasaan iba, simpati
sekaligus empati kepada orang-orang yang lemah dan membutuhakan bantuan,
melalui bersedekah.
Bersedekah tidak harus
besar, yang penting dengan KEIKHLASAN.
Kita bersedekah TIDAK
MENGHARAPKAN BALASAN dari orang yang kita bantu. Kita harus yakin ALLAH SWT lah
yang akan membalas.
”Dan bersegeralah kamu
kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yg luasnya seluas langit dan bumi,
yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang
MENAFKAHKAN (HARTANYA) DI WAKTU LAPANG & DI WAKTU SEMPIT, dan orang-orang
yg menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. ALLAH menyukai
orang-orang yang berbuat baik ” (QS. Ali Imran : 133-134)
” Perbandingan (balasan
atau pahala) bagi orang-orang yg MEMBELANJAKAN HARTANYA DI JALAN ALLAH seperti
satu biji yg menumbuhkan tujuh cabang, di setiap cabang menjuntai seratus buah,
dan ALLAH akan menggandakan (pahala) kepada siapa yang Dia kehendaki, dan ALLAH
itu luas (pemberian-Nya) lagi sangat mengetahui ” (QS. Al-Baqarah : 261)
”Siapa yang MEMBANTU
MENYELESAIKAN KESUSAHAN SESEORANG di dunia (lebih-lebih lagi saudara sesama
Muslim), ALLAH PASTI MEMBANTU MENYELESAIKAN KESUSAHANNYA DI DUNIA dan AKHIRAT ”
(HR. Bukhari).
- Berkah sedekah bisa sirna jika
orang yang bersedekah MENGUNGKIT-UNGKIT dan SELALU MENYEBUT-NYEBUT sedekah
itu di depan umum.
- Sedekah dapat MEMADAMKAN MURKA
ALLAH SWT
- Sedekah dapat MEMELIHARA
MANUSIA DARI KEJAHATAN
Siapakah yang DIUTAMAKAN
UNTUK DIBERI SEDEKAH ?
1- ANAK YATIM, karena
sebelum dewasa anak yatim belum dapat mandiri. Mereka adalah TITIPAN ALLAH SWT
kepada hamba lainnya yang mampu.
2- FAKIR MISKIN, yang
perlu dibantu agar dapat diberdayakan agar mandiri.
3- JANDA dan LANSIA,
karena kehilangan tulang punggung pencari nafkahnya, serta kehilangan masa
produktifnya.
4- YANG TERLILIT HUTANG
5- YANG TERKENA MUSIBAH
6. SELALU DALAM KEADAAN BERWUDHU ...
Banyak hadits yang
sangat menganjurkan untuk TETAP BERWUDHU WALAUPUN TIDAK HENDAK MENDIRIKAN
SHALAT.
Berdasarkan sunnah tsb,
mulai generasi sahabat hingga orang-orang shaleh, senantiasa mereka MENJAGA
WUDHU DALAM SEGALA AKTIFITAS, baik dalam perjalanan, membaca Al-Qur’an,
menuntut ilmu, dalam bekerja, ketika hendak tidur, termasuk sebelum &
sesudah berhubungan suami-istri.
BERWUDHU BUKAN HANYA
DISAAT MENGHADAP ALLAH SWT dalam shalat, tapi juga ketika akan tidur – BERADA
DALAM KESUCIAN.
ALLAH SWT berfirman :
”Sungguh, ALLAH menyukai orang-orang yg bertobat dan mereka yang MENYUCIKAN DIRI”
(QS. Al-Baqarah : 222).
Abu Hurairah
meriwayatkan RASULULLAH SAW, bersabda : ”Pada hari kiamat, karena bekas
wudhunya (yang bercahaya). Siapa ingin memanjangkan ghurram-nya silakan
lakukan” (HR. Bukhari).
”Siapa yang BERWUDHU
(untuk mendapatkan) KESUCIAN, maka ALLAH akan MENETAPKAN BAGINYA DENGAN SEPULUH
KEBAIKAN” (HR. Abu Daud)
”Seseorang senantiasa
DIANGGAP SEPERTI DALAM KEADAAN SHALAT, asal dia tidak berhadas (= buang angin)”
(HR. Bukhari)
7. SELALU BERDZIKIR ...
Dzikrullah memiliki daya
hidup. Menghidupkan dan menyemangati jiwa yang rapuh, melapangkan jiwa yang
sempit serta membangkitkan keyakinan bagi yang mengalami kelelahan dalam
menjalani kehidupan.
DZIKIR yang UTAMA :
* La ilaha illallah
wahdahu la syarika lah. Lahul mulku wa lahu hamdu wa huwa ’ala kulli syay’in
qadir * Subhanallah wal hamdu lillah wa ilaha illallah wallahu akbar *
Subhanallah wa bihamdihi * Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil azhim *
(surah Al-Fatihah)
Rasulullah SAW bersabda
: ”Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak
berdzikir, seperti ORANG YG HIDUP dan ORANG YG MATI” (HR. Bukhari)
”Dan laki-laki yang
BANYAK MENYEBUT (MENGINGAT) ALLAH disertai dengan perempuan yang banyak
menyebut Allah, maka Allah telah menyediakan untuk mereka AMPUNAN & PAHALA
YG BESAR ” (QS. Al-Ahzab : 35)
”Maka apabila kami telah
menyelesaikan shalat, INGATLAH DI WAKTU BERDIRI, DUDUK maupun BERBARING ….”
(QS. An-Nisa : 103)
”Karena itu, INGATLAH
KALIAN PADA-KU, niscaya Aku pun akan ingat pada kalian…” (QS. Al-Baqarah : 152)
”INGATLAH TUHANMU
SEBANYAK-BANYAKNYA dan BERTASBIHLAH dengan memuji Tuhanmu di waktu petang dan
pagi ” (QS. Ali-Imran : 41)
Pribadi yang BERDZIKIR :
Setiap KALAMNYA adalah DAKWAH
Setiap DIAMNYA adalah DZIKIR
Setiap NAPASNYA adalah TASBIH
Setiap PANDANGAN MATANYA adalah RAHMAT
Setiap SUARA TELINGANYA selalu TERJAGA
Setiap PIKIRANNYA adalah BAIK SANGKA
Setiap GERAK HATINYA adalah DOA
Setiap SENTUHAN TANGANNYA adalah SEDEKAH
Setiap LANGKAH KAKINYA adalah JIHAD
Kekuatannya adalah SILATURAHMI
Kesibukannya adalah ASYIK MEMPERBAIKI DIRI
Kerinduannya adalah TEGAKNYA SYARIAT ALLAH SWT
MEMILIH Dunia atau
Akhirat
ANTARA Dunia dan Akhirat
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’aam ayat 32)
Perhiasan Dunia
Seseorang menganggap
apa yang ada dalam kehidupan dunia: harta, kekuasaan, dan kekuatan materi
sebagai perantara yang dapat digunakan untuk beramal akhirat.
|
BERBEKAL
TAQWA
|
Oleh karena itu, pada
hakikatnya dunia tidak dicela kelezatannya. Pujian dan celaan hanyalah
ditujukan kepada perbuatan hamba dalam kehidupan dunia. Dunia merupakan
jembatan dan alat penyeberangan yang dapat mengantarkan ke akhirat. Dari dunia,
kita beroleh bekal menuju surga. Kehidupan yang baik bergelimang nikmat yang
diperoleh penduduk surga hanya didapatkan dengan apa yang mereka tanam di
dunia. Dengan demikian, dunia menjadi negeri berjihad, menunaikan shalat,
puasa, infak fisabilillah, dan berlomba-lomba dalam hal kebaikan.
Allah l berfirman kepada penduduk surga:
(Dikatakan kepada penghuni surga), “Makan dan minumlah kalian dengan nikmat disebabkan amal saleh yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (al-Haqqah: 24)
Allah l berfirman kepada penduduk surga:
(Dikatakan kepada penghuni surga), “Makan dan minumlah kalian dengan nikmat disebabkan amal saleh yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (al-Haqqah: 24)
Pikiran/pandangan
seseorang terbatas dan terfokus untuk mencapai kenikmatan-kenikmatan dunia.
Perbuatannya pun semata-mata untuk meraih angan-angan duniawinya. Pikirannya
tidak bisa melampaui apa yang ada di balik ambisi dunianya, yaitu akibat-akibat
buruk yang bakal diperoleh. Tidak pula ia berbuat untuk kehidupan setelah hidup
di dunia, bahkan menaruh perhatian pun tidak! Ia tidak tahu bahwa Allah l
menjadikan kehidupan dunia ini sebagai ladang untuk akhirat. Seharusnya ia
menjadikan dunia sebagai negeri amal sedangkan akhirat sebagai negeri balasan.
Siapa yang menyibukkan dirinya di dunia ini dengan amal saleh maka ia akan beroleh keberuntungan di dua negeri. Sebaliknya, siapa yang menyia-nyiakan dunia (tidak dipakai untuk beramal saleh) maka akan hilang akhiratnya. Allah l berfirman:
“Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (al-Hajj: 11)
Allah l tidaklah menciptakan dunia ini sia-sia. Dia menciptakannya untuk suatu hikmah yang agung. Allah l berfirman:
“Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah yang paling baik amalannya.” (al-Mulk: 2)
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagi bumi untuk Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik amalan/perbuatannya.” (al-Kahfi: 7)
Siapa yang menyibukkan dirinya di dunia ini dengan amal saleh maka ia akan beroleh keberuntungan di dua negeri. Sebaliknya, siapa yang menyia-nyiakan dunia (tidak dipakai untuk beramal saleh) maka akan hilang akhiratnya. Allah l berfirman:
“Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (al-Hajj: 11)
Allah l tidaklah menciptakan dunia ini sia-sia. Dia menciptakannya untuk suatu hikmah yang agung. Allah l berfirman:
“Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah yang paling baik amalannya.” (al-Mulk: 2)
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagi bumi untuk Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik amalan/perbuatannya.” (al-Kahfi: 7)
Pembagian Dunia
kitab “Syarihul
Iman” karya Syaikhina
Ahmad Rifa’i rahimahullohu. Sebuah
kitab yang membahas tentang iman (aqidah). Beliau mengutip kalam
Sayyidina ‘Abdulloh Abnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma ;
ان الله تعالي جعل
الدنيا ثلاثة اجزاء جزء للمؤمن وجزء للمنافق و جزء للكافر فاالمؤمن يتزود
والمنافق يتزينوالكافر يتمتع
”Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan dunia menjadi tiga
bagian, bagian pertama untuk mukmin, bagian kedua untuk orang munafik, bagian
ketiga untuk orang kafir. Maka, seorang mukmin menjadikan dunia sebagai bekal
untuk akhiratnya, dan orang munafik menjadikan dunia sebagai perhiasan, dan
orang kafir menjadikan dunia sebagai kesenangan”
(Syarikul Iman:kurasan 15)
Allah Menjadikan Dunia Menjadi 3 Bagian :
- Untuk orang mukmin. Mereka menjadikan dunia sebagai ladang amal untuk
bekal dikehidupan kekal kelak diakhirat.
harta-benda,makanan,minuman,pakaian, semua yang mereka makan,mereka pakai
semata-mata untuk menolong tegaknya ibadah kepada Allah SWT. Anak Istri
yang dititipkan Allah kepadanya juga dididik dan diarahkan untuk hanya
menyembah kepada Allah.
- Untuk Orang Munafik. Dunia ditangan orang munafik dijadikan sebagai
hiasan, sepertinya mereka beramal, namun hanya sebatas lahirnya saja.
Meskipun lahirnya beribadah, tapi tujuan utamanya tetap dunia juga.
Beramal kesana-kemari tujuannya supaya menang pemilu. na’udzu billah min
dzalik.
- Untuk orang kafir.
Orang kafir menjadikan dunia hanya untuk kesenangan atau kenikmatan yang
sifatnya ragawi. Allah menyamakan mereka ini dengan hewan. Dalam otaknya
hanya ada mencari dan menikmati. dalam bahasa jawa kasar “jenggelek
melek,nyekek,nelek,nggolek” (bangun tidur,trus makan,buang hajat,lalu
bekerja).
Allah berfirman :
يَتَمَتَّعُونَ
وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الأنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
“Mereka
bersenang-senang dan makan layaknya hewan-hewan, dan neraka adalah tempat
tinggal mereka.” (Muhammad: 12).
Dunia Sesaat Nikmatnya
Sesungguhnya dunia
yang kita berbangga diri di dalamnya adalah kehinaan yang tidak ada harganya sebagaimana
dituturkan Dari Shahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata:
أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللهِ، لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
“Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?” “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim no.7344)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda:
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 686)
Sungguh keliru bila kita mengira dunia ini mulia, karena dunia adalah sesaat dan akhirat adalah abadi.
Lantas relakah anda menukar air yang sejuk dengan bara api yang panas, “Tentu Tidak”
Lalu kenapa kita masih terhanyut dalam urusan dunia, Baik berupa pekerjaan yang melalaikan waktu untuk akhirat, atau pun perdagangan yang licik (curang) demi mengeruk banyak harta, dll ??
Karena hawa nafsu yang mengendalikan diri kita, perhatikanlah !!
Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ. رواه الترمذي وابن ماجه وأحمد
“Orang yang cerdas adalah yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi banyak berangan-angan atas (karunia) Allah.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا هَمَّ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهَا هَلَكَ. رواه ابن ماجه والحاكم وحسنه الألباني
“Barangsiapa yang menjadikan pikiran-pikirannya menjadi satu pikiran yaitu pikiran akhirat, Allah cukupkan masalah dunianya. Dan barang siapa yang pikirannya bercabang-cabang di urusan dunia, Allah tidak perduli di lembah dunia mana dia akan binasa.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim dihasankan oleh al-Albani)
Jadikan Dunia Tempat Persinggahan
Marilah kita Jadikanlah dunia ini sebagai tempat persinggahan sementara agar kita tidak terbuai oleh pesona indahnya yang menipu kita dan yang akan membuat kita lupa akan akhirat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, sambil memegang pundak iparnya ini:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari no. 6416)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا وَفِي اْلآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan- Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al- Hadid: 20)
Perhatikanlah baik-baik firman Rabb yang mulia di atas berikut maknanya
Lalu apa yang kita pahami dari kehidupan dunia?
Masihkah dunia membuai kita?
Masihkah angan-angan kita melambung tuk meraih gemerlapnya?
Masihkah kita akan tertipu dengan kesenangannya?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah mempesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memperhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita, karena sesungguhnya awal fitnah (ujian) Bani Israil dari kaum wanita.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
Suatu ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Berkatalah para shahabat yang menyaksikan hal itu, “Wahai Rasulullah, seandainya boleh kami siapkan untukmu kasur yang empuk!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab:
مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2377, dishahihkan Asy-Syaikh Al- Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi)
Dari Al-Mustaurid bin Syaddad radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
“Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?” (HR. Muslim no. 7126)
Peringatan Allah tentang pesona dunia
Di dalam al-Qur’an berulang kali Allah St mengingatkan kita agar tidak terpedaya oleh pesona dunia yang memang memukauini. Sesungguhnya kehidupan dunia ini sangatlah fana dan singkat, sedangkan di akhirat kelak tersedia surga dengan segala kenikmatannya dan neraka dengan segala penyiksaannya. Kampung akhirat adalah kehidupan yang sejati, kekal dan tidak ada akhirnya. Marilah kita renungkan pesan-pesan Ilahi berikut ini:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Ia bagaikan hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu mengering dan kamu lihat warnanya kuning lalu menjadi hancur. Sedangkan di akhirat (kelak) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadiid: 20)
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia ini memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Faathir: 5)
Dan firman-Nya:
“Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS. Ar-Ra’du: 26).
Dalam hal ini para sahabat Rasulullah Sw adalah contoh yang baik. Mereka semua bekerja mengurus dunianya. Kaum muhajirin bekerja sebagai pedagang sedangkan mayoritas kaum Anshar bekerja sebagai pekebun. Di antara mereka ada yang kaya raya seperti: Utsman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatthab Rd, dan lain-lain. Akan tetapi mereka menjadikan dunia itu di tangan mereka, bukan di hati mereka. Sehingga, mereka kaya raya namun tidak sampai cinta dunia. Bagi mereka harta adalah sarana untuk meraih pahala. Kekayaan adalah jalan untuk meraih ridha ar-Rahmaan.
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata:
أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللهِ، لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
“Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?” “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim no.7344)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda:
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 686)
Sungguh keliru bila kita mengira dunia ini mulia, karena dunia adalah sesaat dan akhirat adalah abadi.
Lantas relakah anda menukar air yang sejuk dengan bara api yang panas, “Tentu Tidak”
Lalu kenapa kita masih terhanyut dalam urusan dunia, Baik berupa pekerjaan yang melalaikan waktu untuk akhirat, atau pun perdagangan yang licik (curang) demi mengeruk banyak harta, dll ??
Karena hawa nafsu yang mengendalikan diri kita, perhatikanlah !!
Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ. رواه الترمذي وابن ماجه وأحمد
“Orang yang cerdas adalah yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi banyak berangan-angan atas (karunia) Allah.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا هَمَّ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهَا هَلَكَ. رواه ابن ماجه والحاكم وحسنه الألباني
“Barangsiapa yang menjadikan pikiran-pikirannya menjadi satu pikiran yaitu pikiran akhirat, Allah cukupkan masalah dunianya. Dan barang siapa yang pikirannya bercabang-cabang di urusan dunia, Allah tidak perduli di lembah dunia mana dia akan binasa.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim dihasankan oleh al-Albani)
Jadikan Dunia Tempat Persinggahan
Marilah kita Jadikanlah dunia ini sebagai tempat persinggahan sementara agar kita tidak terbuai oleh pesona indahnya yang menipu kita dan yang akan membuat kita lupa akan akhirat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, sambil memegang pundak iparnya ini:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari no. 6416)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا وَفِي اْلآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan- Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al- Hadid: 20)
Perhatikanlah baik-baik firman Rabb yang mulia di atas berikut maknanya
Lalu apa yang kita pahami dari kehidupan dunia?
Masihkah dunia membuai kita?
Masihkah angan-angan kita melambung tuk meraih gemerlapnya?
Masihkah kita akan tertipu dengan kesenangannya?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah mempesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memperhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita, karena sesungguhnya awal fitnah (ujian) Bani Israil dari kaum wanita.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
Suatu ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Berkatalah para shahabat yang menyaksikan hal itu, “Wahai Rasulullah, seandainya boleh kami siapkan untukmu kasur yang empuk!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab:
مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2377, dishahihkan Asy-Syaikh Al- Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi)
Dari Al-Mustaurid bin Syaddad radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
“Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?” (HR. Muslim no. 7126)
Peringatan Allah tentang pesona dunia
Di dalam al-Qur’an berulang kali Allah St mengingatkan kita agar tidak terpedaya oleh pesona dunia yang memang memukauini. Sesungguhnya kehidupan dunia ini sangatlah fana dan singkat, sedangkan di akhirat kelak tersedia surga dengan segala kenikmatannya dan neraka dengan segala penyiksaannya. Kampung akhirat adalah kehidupan yang sejati, kekal dan tidak ada akhirnya. Marilah kita renungkan pesan-pesan Ilahi berikut ini:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Ia bagaikan hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu mengering dan kamu lihat warnanya kuning lalu menjadi hancur. Sedangkan di akhirat (kelak) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadiid: 20)
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia ini memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Faathir: 5)
Dan firman-Nya:
“Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS. Ar-Ra’du: 26).
Dalam hal ini para sahabat Rasulullah Sw adalah contoh yang baik. Mereka semua bekerja mengurus dunianya. Kaum muhajirin bekerja sebagai pedagang sedangkan mayoritas kaum Anshar bekerja sebagai pekebun. Di antara mereka ada yang kaya raya seperti: Utsman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatthab Rd, dan lain-lain. Akan tetapi mereka menjadikan dunia itu di tangan mereka, bukan di hati mereka. Sehingga, mereka kaya raya namun tidak sampai cinta dunia. Bagi mereka harta adalah sarana untuk meraih pahala. Kekayaan adalah jalan untuk meraih ridha ar-Rahmaan.
Kehidupan Akhirat
Pesona dunia dan kemilaunya hanyalah berpengaruh pada jiwa-jiwa yang tidak meyakini hari akhir dengan segala peristiwa dahsyatnya. Hal ini karena hari akhir (surga dan neraka) adalah sesuatu yang ghaib dan tidak kasat mata. Sedangkan jiwa manusia sangat condong dengan sesuatu yang nampak, nyata dan dekat. Padahal pesona dunia ini jika dibandingkan dengan pesona surga, sangatlah tidak ada artinya. Akan tetapi pesona surga tersebut tidak nampak, tidak bisa dibuktikan di dunia, dan tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata. Nah di sinilah pentingnya beriman kepada hari akhir.
“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 4)
Dengan menyakini hari akhir maka jiwa seorang muslim tidak terlalu silau dengan gemerlapnya dunia. Sebab dia yakin bahwa setelah kehidupan dunia ini ada suatu kehidupan yang jauh lebih bermakna lagi kekal. Dan itulah kehidupan yang sejati.
Pesona dunia dan kemilaunya hanyalah berpengaruh pada jiwa-jiwa yang tidak meyakini hari akhir dengan segala peristiwa dahsyatnya. Hal ini karena hari akhir (surga dan neraka) adalah sesuatu yang ghaib dan tidak kasat mata. Sedangkan jiwa manusia sangat condong dengan sesuatu yang nampak, nyata dan dekat. Padahal pesona dunia ini jika dibandingkan dengan pesona surga, sangatlah tidak ada artinya. Akan tetapi pesona surga tersebut tidak nampak, tidak bisa dibuktikan di dunia, dan tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata. Nah di sinilah pentingnya beriman kepada hari akhir.
“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 4)
Dengan menyakini hari akhir maka jiwa seorang muslim tidak terlalu silau dengan gemerlapnya dunia. Sebab dia yakin bahwa setelah kehidupan dunia ini ada suatu kehidupan yang jauh lebih bermakna lagi kekal. Dan itulah kehidupan yang sejati.
“Kelak pada hari kiamat akan didatangkan orang yang paling senang hidupnya di dunia dari kalangan penghuni neraka. Kemudian ia dicelupkan ke neraka sekali celup lalu dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kesenangan ketika di dunia dahulu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Rabb-ku.’ Lalu didatangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia dari kalangan penghuni surga. Kemudian ia dicelupkan ke surga sekali celup lalu dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kesusahan atau penderitaan ketika di dunia dahulu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, aku tidak pernah merasakan kesusahan atau penderitaan sedikitpun.’” (HR. Muslim).
Demikianlah, seorang muslim yang senantiasa mengingat akhirat niscaya akan menganggap remeh dunia ini. Akan waspada dari godaan dunia. Tidak terpedaya dengan pesona dunia, tidak sedih ketika kehilangan dunia, dan tidak iri dengan kesenangan dunia yang Allah berikan kepada sebagian hamba-Nya.
Orang yang seperti ini, jiwanya akan dipenuhi oleh qana’ah (merasa puas dengan pemberian Allah St), hatinya bersih dari kerakusan terhadap dunia, dengki, benci, dan sebagainya. Karena, seorang yang hidup dengan pikiran tertambat ke akhirat niscaya tidak akan dirisaukan oleh dunia yang sempit ini. Dalam pandangannya, dunia tak ubahnya lubang yang sempit. Lantas buat apa ia bersaing atau mendengki orang lain hanya karena sebuah lubang yang sempit lagi cepat berlalu? Ia hidup di ufuk yang luas nan lapang. Ufuk akherat beserta kehidupannya yang abadi. Keyakinan seperti ini akan membuahkan rasa tentram, bahagia dan ridha. Sedangkan rasa tentram (thuma’ninah) dan ridha adalah surganya dunia. Oleh karena itu, keyakinan kepada hari akhir adalah nikmat yang besar yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya.
وَابْتَغِ فِيمَا
آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS Al-Qashshash 77)
“Wahai kaum muslimin, silahkan berlomba menjadi orang kaya di dunia, sebab Islam tidak melarang anda menjadi orang kaya. Bahkan para sahabat banyak yang kaya-raya seperti Abu Bakar, Abdurrahman bin Auf dan Usman bin Affan. Silahkan kejarlah berbagai keberhasilan dunia….. Yang penting, janganlah sampai melupakan kehidupan akhirat…..!”
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS Al-Qashshash 77)
“Wahai kaum muslimin, silahkan berlomba menjadi orang kaya di dunia, sebab Islam tidak melarang anda menjadi orang kaya. Bahkan para sahabat banyak yang kaya-raya seperti Abu Bakar, Abdurrahman bin Auf dan Usman bin Affan. Silahkan kejarlah berbagai keberhasilan dunia….. Yang penting, janganlah sampai melupakan kehidupan akhirat…..!”
Kera adalah binatang yang paling rakus terhadap makanan. Meski mulutnya
penuh kacang, tangannya membawa pisang, dia akan merebut makanan yang dibawa
pengunjung kebun binatang.
Saudaraku, sudah banyak kerabat, teman dan sahabat yang menjadi penghuni penjara karena kejahatan yang mereka lakukan untuk mendapatkan harta. Sudah banyak sengketa yang menyebabkan korban jiwa karena harta.
Saudaraku, sudah banyak kerabat, teman dan sahabat yang menjadi penghuni penjara karena kejahatan yang mereka lakukan untuk mendapatkan harta. Sudah banyak sengketa yang menyebabkan korban jiwa karena harta.
Sudah banyak manusia
menjadi calon penghuni neraka karena kerakusan mereka akan harta. Belumkah tiba
waktunya bagi kita semua untuk mengecilkan harta dunia dan membesarkan akherat?
Dalam pandangan Allah harta dunia tidak lebih berharga dari pada sehelai sayap
nyamuk. Lalu mengapa kita memperebutkannya dengan mengorbankan akherat?
وَ رَوَى اْلبُخَارِيُّ وَ مُسْلِمٌ: لَوْ اَنَّ اَحَدُكُمْ يَعْمَلُ
فىِ صَخْرَةٍ
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Mari kita sadari bahwa
sebenarnya harta dan anak-anak itu hanyalah cobaan (Dan ketahuilah, bahwa
hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi
Allah-lah pahala yang besar [QS Al-Anfaal : 28]),
وَ رَوَى اْلبُخَارِيُّ وَ مُسْلِمٌ: لَوْ اَنَّ اَحَدُكُمْ يَعْمَلُ
فىِ صَخْرَةٍ
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Ketahuilah, bahwa
Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan,
perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang
banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para
petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning
kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan
dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah
kesenangan yang menipu.
dan kesenangan yang menipu (Dan kehidupan dunia ini tidak lain
hanyalah kesenangan yang menipu. [QS Al-Hadiid : 20]).
Jangan sampai kita tertipu dan gagal menghadapi cobaan. Mari kita perlakukan yang kecil itu kecil dan yang besar itu besar. Sedang yang lebih besar, lebih baik dan lebih kekal adalah kehidupan akherat (dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. [QS Adl-Dluhaa : 4]);
Jangan sampai kita tertipu dan gagal menghadapi cobaan. Mari kita perlakukan yang kecil itu kecil dan yang besar itu besar. Sedang yang lebih besar, lebih baik dan lebih kekal adalah kehidupan akherat (dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. [QS Adl-Dluhaa : 4]);
وَ رَوَى اْلبُخَارِيُّ وَ مُسْلِمٌ: لَوْ اَنَّ اَحَدُكُمْ يَعْمَلُ
فىِ صَخْرَةٍ
وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الأولَى
وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الأولَى
Dan Sesungguhnya hari
kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).
(Sedang kehidupan
akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal [QS. Al-A’laa : 17]).
وَ رَوَى اْلبُخَارِيُّ وَ مُسْلِمٌ: لَوْ اَنَّ اَحَدُكُمْ يَعْمَلُ
فىِ صَخْرَةٍ
وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
Semoga Allah memilih
kita menjadi hamba-Nya yang pandai mengecilkan dunia dan membesarkan akherat,
menjadi penguasa harta, bukan malah dikuasai harta, aamiin.
Inilah
18 orang yang beruntung karena telah dicintai Allah SWT. Siapa saja
mereka dan kenapa Allah SWT sangat sayang dan mencintai mereka.
Orang-orang yang dicintai Allah SWT:
1. At-Tawwabin.
Orang-orang yang bertaubat
… Sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah [2]: 222)
2. Al-Mutathohirin.
Orang-orang yang suka bersuci /menjaga wudhu
… Sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah [2]: 222)
3. Al-Muqsithin.
Orang-orang yang adil
… sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang adil. (QS. Al-Maa’idah [5]: 42)
4. Al-Muttaqin.
Orang-orang yang taqwa
… maka sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Imran [3]: 76)
5. Al-Muhsinin.
Orang-orang yang suka berbuat kebaikan
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. ALLAH menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali ‘Imran [3]: 134)
6. Al-Mutawakilin.
Orang-orang yang bertawakal kepada ALLAH Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada ALLAH. Sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-NYA. (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)
Orang-orang yang dicintai Allah SWT:
1. At-Tawwabin.
Orang-orang yang bertaubat
… Sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah [2]: 222)
2. Al-Mutathohirin.
Orang-orang yang suka bersuci /menjaga wudhu
… Sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah [2]: 222)
3. Al-Muqsithin.
Orang-orang yang adil
… sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang adil. (QS. Al-Maa’idah [5]: 42)
4. Al-Muttaqin.
Orang-orang yang taqwa
… maka sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Imran [3]: 76)
5. Al-Muhsinin.
Orang-orang yang suka berbuat kebaikan
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. ALLAH menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali ‘Imran [3]: 134)
6. Al-Mutawakilin.
Orang-orang yang bertawakal kepada ALLAH Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada ALLAH. Sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-NYA. (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)
7. As-Shobirin.
Orang-orang yang sabar ALLAH menyukai orang-orang yang sabar. (Ali ‘Imran [3]: 146)
8. Orang-orang yang mengikuti Rasul
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai ALLAH, ikutilah aku, niscaya ALLAH mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” ALLAH Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imran[3]:31)
9. Orang-orang yang berperang di jalan ALLAH.
Sesungguhnya ALLAH menyukai orang yang berperang dijalan-NYA dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
(QS. Ash-Shaff [61]: 4)
10. Orang-orang yang tidak suka mengeluarkan kata-kata yang keji, berpikir mandiri, sabar dan rajin melakukan sholat malam. Imam al-Baqir as berkata, ”Sesungguhnya ALLAH mencintai orang yan (apabila) bersenda gurau tidak mengeluarkan kata-kata yang keji, yang berpikir mandiri, selalu bersabar (apabila) sendirian, dan suka melakukan shalat malam”
11. Orang-orang yang hatinya senantiasa sedih namun tetap bersyukur kepada ALLAH subhana wa Ta'ala .
Imam Ali Zainal ‘Abidin as berkata, ”Sesungguhnya ALLAH mencintai setiap hati yang selalu merasa sedih, dan setiap hamba yang selalu bersyukur”
12. Orang-orang yang memiliki sifat malu (al-hayya’) dan santun (al-halim). Rasulullah saw. bersabda, ”Sesungguhnya ALLAH mencintai orang yang memiliki sifat malu, orang yang senantiasa santun, orang yang selalu menjaga kesucian dirinya (‘afif) , dan orang yang enggan berbuat keji (muta’afiffah)”
13. Orang-orang yang rajin sholat malam, bersedekah, dan tidak takut mati di jalan ALLAH. Rasulullah saw bersabda, ”Tiga macam orang yang ALLAH ‘Azza wa Jalla mencintai mereka yakni mereka yang senantiasa bangun di malam hari (untuk mengerjakan shalat malam) lalu membaca Kitab ALLAH (Al-Qur’an), mereka yang senang bersedekah dengan tangan kanannya sambil menyembunyikannya dari tangan kirinya, dan mereka yang mengalahkan dan mengusir musuhnya dalam perang sementara kawan-kawannya menyerahkan diri kepada musuh”
14. Orang-orang yang saling mencintai di jalan ALLAH, bersilaturahiim dan bertawakkal kepada ALLAH.
Di dalam hadits Mi’raj diriwayatkan bahwa ALLAH ‘Azza wa Jalla telah berfirman, ”Wahai Muhammad! Wajib bagi-KU mencintai orang-orang yang saling mencintai di jalan-KU, dan wajib bagi-KU mencintai orang-orang yang saling berkasih sayang di jalan-KU, dan wajib bagi-Ku mencintai orang-orang yang suka bersilatur-rahim di jalan-Ku, dan wajib bagi-KU mencintai orang-orang yang senantiasa bertawakkal kepada-KU…”
15. Orang-orang yang mencintai amal yang diwajibkan kepadanya. ALLAH Tabaraka Ta’ala berfirman, ”Tiada yang lebih Aku cintai dari seorang hamba-KU daripada kecintaan sang hamba kepada apa yang telah Aku wajibkan baginya”
16. Orang-orang yang mampu meredam kemarahannya dengan santun. Rasulullah saw bersabda, ”Wajiblah kecintaan ALLAH atas orang yang marah tetapi ia mampu meredam kemarahannya dengan santun”
17. Orang-orang yang banyak mengingat mati.
Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang banyak mengingat kematian niscaya ALLAH mencintainya”
18. Orang-orang yang mencintai apa yang dicintai ALLAH dan Rasul-NYA, dan membenci apa yang dibenci ALLAH dan Rasul-NYA.Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw, ”Aku ingin sekali menjadi orang yang dicintai ALLAH dan Rasul-NYA”. Rasulullah saw pun berkata, ”Cintailah apa yang dicintai ALLAH dan Rasul-NYA, dan bencilah apa yang dibenci oleh ALLAH dan Rasul-NYA”
Comments
Post a Comment