Wednesday, April 8, 2015.
Hari ini rapat pimpinan, seperti biasa di lantai 7.
Lewat pintu belakang lantai 7, dan nunggu di dekat meja pingpong krn acara belum di mulai.
Beberapa menit nunggu, dan kita pun ke ruang depan tmp acara. Mampirlah ke kubikel RT paling depan.
ada mba enni lg ngobrol sm mba2 yg kmrn baru penempatan pengganti mas afan.
"mba en..." seru gw *ceria*
"hei niarr..."
gw pun nanya "meilia kemana?" *liat komputernya nyala tp orangnya ga ada*
"meli konser ke bandung."
*spechless* *mulai sedih krn membandingkan nasip gw yg blm pernah konser di bagian gw*
"dari kapan?" lanjut gw nanya *mencoba teteup tegar*
"dari hari senin. sampai jumat sih."
"oooh..."
Ya Allah...... beruntung aku skrg jarang main ke lantai 7 lagi, krn aku tau pasti bakal sedih krn hal2 ttrtentu yg ga aku dpt di lantai 1.
Krna meski aku udh ikhlas dengan segala ketetapan mu, hanya saja, rasanya masih susah untuk ikhlas. Ya Allah, maaf................... :(
Maafkan hati ini yg masih iri dengan nikmat yg di dapat dia, sedang aku tidak....
Masih sulit Ya Allah, menerima kenyataan bahwa dia lebih beruntung daripada aku.
Kita yg sama2 D3, tp bernasip beda.
Aku yg lulusan D3 negeri, sedang dia swasta yg kampusnya ada dimana2.
Magang dan penempatan yg sama. Tp dia lebih beruntung krn berada di subbag yg enak.
Udh 2x konser, di tanggerang dan skrg di bandung. Itu yg aku tahu. Mgkn udh banyak konser yg dia ikutin tnp aku ketahui.
Sedangkan aku, disini ga pernah diikuti DL, apalagi konser pun ga ada. DL pun itu kerjanya harus menjadi narasumber. NO CHOICE. sedang di RT ga perlu jadi narasumber, bisa nebeng2/hanya kerja yg ga perlu menjadi narasumber. How lucky are you.
Mungkin.....
Mungkin......
Mungkin.......
Ini jalan terbaik yg kau berikan Ya Rab. Pasti ada alasan di balik ini semua. Di balik ketetapan Mu. Di balik nasip baik maupun buruk untuk aku. Di balik jalan hidup ku, yg mgkin tidak seberuntung dia.
Krna slalu ada hikmah di balik semua hal yg terjadi ................
I always believe in you, MY ALLAH :)
****
Percayalah, Takdir Allah Selalu Baik!
"Dan mungkin kamu suka sesuatu, padahal di sisi Allah sesuatu itu adalah hal yang buruk untukmu. Allah sungguh Maha Tahu, sedang kamu tidak tahu."
Sebagai seorang mukmin, kita wajib percaya pada Qodho dan Qodar. Itu sudah ketetapan dan termasuk dalam rukun iman yang keenam. Jadi siapa-siapa yang nggak meyakininya, berarti mereka bukan termasuk mukmin. Namun, sebagai Manusia biasa yang tercipta sebagai manusia yang lupa, malas, dan lalai, kita mungkin terkadang tanpa sadar mempertanyakan apa yang telah menimpa diri kita. Kenapa begini? Kenapa begitu? Kenapa harus saya? Kenapa Allah nggak memberikan saya sama seperti apa yang udah dikasih ke orang lain? Terlalu banyak kata tanya (kenapa?).
Salah satu poin yang membuat saya jleb adalah bahwa takdir Allah selalu baik.
Ya! Meski Qadar yang kita alami menurut kita itu buruk, tapi percayalah bahwa menurut Allah itu adalah yang terbaik bagi kita, hambaNya. Allah nggak mungkin memberikan sesuatu melebihi kapasitas kita. Iya kan? Bagi seorang muslim, kita harus percaya itu. Bagaimana mungkin Allah mendzalimi hamba-hambaNya. Yang terjadi adalah kita yang mendzalimi diri kita sendiri.
Kita dzolim karena kita nggak pernah solat.
Kita dzolim karena kita masih merokok, minum-minuman keras, berjudi.
Kita dzolim karena aurat kita masih diumbar.
Kita dzolim karena kita untuk uang sepersenpun nggak pernah disedekahin.
Kita dzolim karena nggak pernah mau membaca ayat-ayat Allah.
Kita dzolim karena masih aja mau pacaran. Sayang-sayangan dengan yang belum halal. Belum diijinin sama Allah.
Kita hanya tahu nikmat yang enak-enak saja. Sementara untuk hal-hal buruk kita selalu mengelak dan akhirnya muncul kata-kata Allah nggak sayang kita. Naudzubillahimindzalik!
Pelan-pelan coba tarik napas dalam-dalam. Lalu coba deh kita telisik lagi kisah dimasa lalu yang mungkin agak menyakitkan dan membuat kita menangis terisak. Kita mungkin nggak menduga kejadian itu terjadi di diri kita dan lalu kita mempertanyakannya ke Allah karena bertentangan dengan keinginan kita. Kemudian urutkan kejadian itu dengan kejadian dimasa kini. Adakah kita menemukan jawaban atas kejadian dimasa lalu itu bahwa semua yang telah terjadi itu ternyata adalah sebuah kebaikan untuk masa depan kita?
Itulah gunanya akal. Allah memberikan kita akal untuk membaca setiap tanda-tanda yang diberikanNya.
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (Q.S Qaaf:37)
****
Jangan pernah berprasangka buruk pada Allah. Nggak sekali-kali.
Allah-lah yang memberikan segala kebaikan kepada kita. Yang buruk datangnya ya dari kita sendiri.
Kita inginnya ini tapi yang baik menurut Allah adalah begitu.
Cobalah kita berhenti untuk bertanya ini dan itu. Dan mulai menerima setiap kenyataan yang sudah Allah gariskan untuk hidup kita.
Berusaha ikhlas menerima semua ketetapan yang Allah berikan kepada kita itu berarti kita sedang membuat diri kita untuk diridhoi oleh Allah.
Tapi…Inilah hidup. Ada sukanya dan ada dukanya. Ada senangnya dan ada sedihnya. Kita tidak dapat senantiasa melewati lorong hidup yang terang…kadang kita harus melewati lorong hidup yang gelap. Kita tidak dapat berharap hidup menyapa kita dengan keindahannya setiap waktu.
Kalau kita dihadapkan pada pilihan antara senang dan sedih,kita pasti memilih untuk senang. Jika kita dihadapkan pada pilihan kaya dan miskin, pasti kita lebih memilih kaya. Jika kita dihadapkan pada pilihan antara sehat dan sakit,…so pasti kita memilih sehat.
Namun, ini bukan tentang apa yang kita inginkan. Ini tentang apa yang harus kita jalani, sebagai bagian dari ketetapanNya. Pilihan kita hanyalah Ridho dengan takdirNya. Karena sejatinya, seburuk apapun yang terjadi, sepedih apapun yang kita rasakan, ketetapan ALLAH tetap hal terbaik bagi setiap hamba-hambaNya. Karenanya akan senantiasa ada hikmah dari segala hal yang menimpa kita.
keseluruhan hidup kita adalah karunia. Jikapun ada takdir buruk berupa musibah yang menerpa kita, mungkin saja, sesungguhnya Allah menghindarkan kita dari musibah yang lebih besar. Bisa jadi, ini adalah tangga untuk naik kepada derajat yang lebih tinggi di sisiNya. Bisa jadi, dengan musibah ini Allah menghapus dosa-dosa kita.
Inilah juga tanda dari rasa sayang-Nya, karena setiap musibah yang menimpa setiap hamba sesungguhnya adalah sapaan kasih dari-Nya, agar kita mendekat kepadaNya.
Mungkin ada saat ketika kita bertanya kepada-Nya, “Why it happens to me?”
Mungkin ada saat ketika kita meratap, ”God, it’s completely hard!”
Engkaulah muslimah terpilih. Bukankah Rasulullah bersabda,”Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka ia diuji (dengan musibah yang menimpa).” (HR. Al Bukhari)
Engkau istimewa, karenanya DIA memperlakukanmu dengan istimewa. Rasakan ini sebagai bentuk cintaNya yang demikian dalam kepadaMu. Bukankah Rasulullah bersabda,”Apabila Allah menyenangi seorang hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya.” (HR. Al Baihaqi)
Engkau luar biasa. Karena hanya orang-orang luar biasa yang mendapat ujian luar biasa. Bukankah Rasulullah bersabda, “Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau imannya lemah dia diuji dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus menerus sehingga ia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Al Bukhari)
Dan sesungguhnya Allah tidak akan menimpakan beban di luar kesanggupan kita. Segala ujian yang menimpa kita sesuai dengan kadar ketahanan yang kita miliki.

Comments
Post a Comment