Sukses
Dunia Dan Akhirat
Seperti biasa, saya sharing tentang konsep bisnis berorientasi akhirat, dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama saat kita berusaha. Yaitu, bukan mengejar cita-cita duniawi yang pendek, seperti punya mobil, punya rumah, perusahaan besar, dan seterusnya. Ini cita-cita yang terlalu pendek. Kita naikkan cita-cita kita ke akhirat.
Jika selama ini, kita diajarkan sejak kecil untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit, maka sekalian saja naikkan cita-cita kita ke akhirat. Kenapa tidak?
Toh dengan bercita-cita akhirat, maka Allah Ta'ala akan membantu memudahkan urusan kita, akhirat dapat dan dunia pasti dapat. Sedangkan kalau cita-cita hanya dunia, maka khawatirnya kita hanya mendapat dunia, dan di akhirat kita menjadi orang yang rugi besar.
Allah Ta'ala berfirman,
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat maka akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia maka akan Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (Qs. Asy-Syura: 20)
لْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Akan tetapi, kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Qs. Al-A’laa: 16--17)
Banyak yang bertanya kepada saya, "Bagaimana contoh bekerja dengan orientasi akhirat?"
Jawabannya banyak sekali: bekerja karena ingin menikah, karena ingin menafkahi keluarga, ingin membantu keluarga yang tidak mampu, ingin berhaji, ingin banyak bersedekah seperti si fulan, ingin membangun 100 rumah sakit Islam, ingin menyantuni satu juta anak yatim, dan seterusnya....
Ada kisah menarik di zaman tabiut tabi'in. Seorang ulama besar bernama Abdullah bin al-Mubarak, seorang ulama ahli hadits sekaligus seorang pedagang yang berhasil. Beliau rahimahullah ditanya oleh Fudhail bin Iyadh, "Engkau selalu mengajari kami untuk zuhud terhadap dunia, tetapi aku lihat engkau sibuk berdagang di pasar-pasar."
Abdullah bin al-Mubarak menjawab bahwa dia bersemangat berdagang karena ingin menanggung nafkah ulama-ulama ahli hadits, agar para ulama tersebut tetap fokus mengajar ilmu hadits dan tidak sibuk bekerja. Alasannya, kalau mereka sibuk bekerja, mereka tidak lagi memiliki waktu yang cukup untuk mengajarkan hadits." (Kisah itu disebutkan oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A'alam an-Nubala', pada biografi Abdullah bin al-Mubarak)
Lihatlah betapa indahnya cita-cita ini, dan betapa Allah Ta'ala membuktikan janjinya. Beliau rahimahullah justru sukses dalam berdagang, menjadi pengusaha kaya, namun tetap zuhud terhadap dunia, yaitu tidak meletakkan dunia di hatinya. Dunia hanya sarana, bukan tujuan. Beliau mengerti hakikat kehidupan dunia yang fana, dunia hanya wasilah untuk kebahagiaan akhirat.
Contoh motivasi lain adalah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (yang artinya), "Wajib atas setiap muslim untuk bersedekah." Dikatakan kepada beliau, "Bagaimana bila ia tidak mampu?" Beliau menjawab, "Ia bekerja dengan kedua tangannya, sehingga ia menghasilkan kemanfaatan untuk dirinya sendiri dan (dengannya ia dapat) bersedekah." (Muttafaqun 'alaih)
Lihatlah, betapa motivasi untuk bekerja hanya karena ingin bersedekah, karena sedekah itu wajib. Sehingga, setelah para sahabat mendengar hadits ini, mereka langsung pergi ke pasar-pasar mencari kerja, meskipun sekadar menjadi kuli angkat barang di punggungnya, hanya untuk mendapatkan upah dan dengan upah itu mereka dapat bersedekah.
Banyak dalil yang menerangkan janji-janji Allah Ta'ala kepada orang-orang yang berorientasi akhirat, bahwa orang yang berorientasi akhirat akan sukses dunia dan akhiratnya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman, 'Wahai anak Adam, beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dadamu dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan, dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia).'" (Hr. Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim)
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Barangsiapa yang menjadikan kegelisahan, kegundahan, cita-cita, dan tujuannya hanya satu, yaitu akhirat, maka Allah akan mencukupi semua keinginannya. Barangsiapa yang keinginan dan cita-citanya bercerai-berai kepada keadaan-keadaan dunia, materi duniawi, yang dipikirkan hanya itu saja, maka Allah tidak akan peduli di lembah mana dia binasa." (Hr. Ibnu Majah; sanadnya hasan)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kecukupan di hatinya, Allah mengumpulkan urusannya, dan dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina. Barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kemelaratan ada di depan matanya, Allah mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja." (Hr. At-Tirmidzi dan lain-lain; hadits shahih)
Nah, masihkah kita ragu dengan janji-janji Allah Ta'ala di atas? Apakah itu cuma dongeng di siang bolong? Siapakah yang paling mampu menepati janjinya? Sungguh sayang, banyak dari kita yang masih ragu dengan janji-janji Allah Ta'ala, dan ikut yakin dengan pameo ini, "Zaman ini zaman edan, kalau tidak ikut arus, bagaimana kita bisa dapat rezeki?", atau "Yang haram saja susah, apalagi yang halal." Maka, jadilah suap-menyuap menjadi keseharian kita, tanpa ada lagi beban, tanpa merasa berdosa, berdusta saat jual-beli menjadi hal yang wajar, dan seterusnya....
Bagaimana mungkin karunia Allah Ta'ala, berupa rezeki, dapat diraih dengan maksiat? Mungkin rezeki itu akan didapat, tetapi rezeki itu tidak akan memiliki berkah. Justru, rezeki tersebut akan membawa petaka, istri dibawa lari orang, anak berzina, kita sendiri terkena penyakit strok dan merana seorang diri di rumah sakit jiwa. Akhir yang buruk, yang tidak satu pun dari kita menginginkannya.
Perhatikan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berikut ini,
"Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu datangnya terlambat, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram." (Hr. Abdur Razaq, Ibnu Hibban, dan al-Hakim)
"Sesungguhnya, Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu, hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencarianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah, karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya." (Hr. Abu Dzar dan al-Hakim)
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah nafkah dengan cara yang baik, karena sesungguhnya seseorang sekali-kali tidak akan meninggal dunia sebelum rezekinya disempurnakan, sekalipun rezekinya terlambat (datang) kepadanya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik, ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram." (Hadits shahih, Shahih Ibnu Majah no. 1743 dan Ibnu Majah II: 725 no. 214)
Hendaklah kita perhatikan hadits-hadits di atas. Kita diperintahkan untuk berusaha, bersungguh-sungguh, bekerja, memperbaiki mata pencarian, meninggalkan yang haram, dan kita diperintahkan untuk bertakwa. Rezeki yang ada di langit (dari Allah) bukan dicari dengan cara maksiat kepada-Nya. Namun, kita diperintahkan untuk bersungguh-sungguh bekerja, memperbaiki cara mencari rezeki, dan bertakwa.
Ada satu pengalaman pribadi yang menarik, sebagai pembuktian hadits-hadits di atas, yaitu bahwa seseorang tidak akan mati hingga seluruh rezekinya diterima. Kejadiannya terjadi pada ayah saya, yaitu setelah operasi jantung beliau mengalami komplikasi, dan sempat dirawat di ruang ICU selama 30 hari.
Beliau sempat berada dalam kondisi koma selama 2 minggu, setelah itu sadar dan meminta es krim. Dokter mengizinkan saya untuk memberikan es krim tersebut. Setelah habis dimakannya, beliau koma lagi selama dua hari, dan akhirnya meninggal dunia.
Kalau diilustrasikan secara sederhana dari kejadian ini, seolah-olah para malaikat menginventaris kembali rezeki yang harus diterima ayah saya, ternyata ada satu yang tertinggal, yaitu es krim. Maka, ayah saya dibangunkan, diberi es krim, kemudian nyawanya dicabut setelah seluruh rezekinya diterima. Benar sekali, seseorang tidak akan mati sebelum rezekinya dia terima dengan sempurna.
Kejadian ini membuat saya bertambah yakin dengan firman Allah Ta'ala dan sabda Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam di atas.
Masih ada lagi yang bertanya, "Untuk apa kita berusaha kalau rezeki sudah ditentukan?" Jangankan kita, para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun bertanya hal yang sama.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, “Setiap kalian telah ditulis tempat duduknya di surga atau di neraka.” Maka ada seseorang dari suatu kaum yang berkata, “Kalau begitu, kami bersandar saja (tidak beramal, pent), wahai Rasulullah?”
Maka, beliau pun menjawab, “Jangan demikian. Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan.” Kemudian, beliau membaca firman Allah, “Adapun orang-orang yang mau berderma dan bertakwa, serta membenarkan al-husna (surga), maka kami siapkan baginya jalan yang mudah.” (Qs. al-Lail: 5-7). (Hr. Bukhari dan Muslim)
Inilah nasihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kita, untuk tidak bertopang dagu, serta supaya senantiasa bersemangat dalam beramal dan tidak menjadikan takdir sebagai dalih untuk bermaksiat dan bermalas-malasan. Kita pasti akan dimudahkan menuju takdir kita, selama kita mengikuti firman Allah Ta'ala dalam surat al-Lail ayat 5 hingga 7 tersebut.
Terakhir, marilah kita renungkan firman Allah Ta'ala berikut ini,
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
"Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Qs. An-Nahl: 97)
Lihatlah, bahwa jika kita ingin hidup bahagia dengan mendapatkan semua kebaikan (karena ayat tersebut tidak membatasi kebaikan apa, maka ulama menerangkan bahwa yang dimaksud adalah semua kebaikan, baik rezeki, kebahagiaan, ketenangan jiwa, dan lain-lain), maka caranya adalah dengan beramal shalih, dalam keadaan beriman.
Bagaimana kita bisa beriman dan beramal shalih? Mari kita pelajari al-Quran dan mengikuti petunjuk Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam dengan pemahaman yang benar. Insya Allah kita akan selamat.
Wallahu a'alam.
Kenapa Doamu Tak Segera Dikabulkan?
Ada masalah penting yang perlu saya ingatkan kepada
aktivis Islam. Yaitu, kadang, ada aktivis Islam berdoa kepada Allah Ta’ala dan
minta sesuatu kepada-Nya. Ia berdoa dan berdoa, dengan mengiba kepada-Nya. Tapi,
doanya tidak kunjung dikabulkan AllahTa’ala. Sejak saat itu, ia tidak lagi
berdoa dan tidak punya harapan doanya dikabulkan Allah Ta’ala.
Sikap seperti itu dilarang Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam,
“Dioa salah seorang dari kalian dikabulkan selagi ia
tidak buru-buru doanya dikabulkan. Ia berkata, ‘Aku telah berdoa kepada
Tuhanku, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (Diriwayatkan
Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Di
riwayat Muslim disebutkan,
“Ditanyakan,
‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan minta segera doa dikabulkan?’
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,’Hamba itu berkat, aku berdoa
dan berdoa, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (Diriwayatkan
Muslim)
Akhi, aktivis Islam, ketahuilah, ada banyak sebab
kenapa doa tidak segera dikabulkan Allah Ta’ala dan ada
hikmah besar di balik tidak dikabulkannya doa dalam waktu cepat. Di antara
sebab dan hikmah itu adalah sebagai berikut:
1. Bisa jadi, penyebab tertundanya pengabulan doa Anda
dikarenakan Anda belum memenuhi syarat-syarat diterimanya doa. Kadang,
bentuknya ialah Anda tidak menghadirkan hati Anda saat berdoa, atau waktu
berdoa Anda bukan waktu dikabulkannya doa, atau Anda tidak khusyuk, merendahkan
diri, dan syarat-syarat doa penting lainnya.
2. Kadang, tidak terkabulnya doa dikarenakan sebab
tertentu, atau ada dosa yang Anda belum bertaubat darinya, atau ada dosa di
mana Anda tidak bertaubat dengan jujur darinya, atau makanan Anda mengandung
syubhat atau ada hak milik orang lain pada Anda dan Anda belum
mengembalikannya. Karena itu, Anda harus bertaubat dengan taubatnashuhah,
dengan melengkapi syarat-syaratnya dan mengembalikannya hak orang lain kepada
pemiliknya terlebih dahulu. Inilah sebab terpenting tidak dikabulkannya dia.
Disebutkan di hadits bahwa Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda,
“Hai Sa’ad (bin Abu Waqqash),
makanlah makanan yang baik-baik, niscaya engkau menjadi orang yang doanya
dikabulkan.”
Juga disebutkan di hadits shahih,
“Lalu,
Rasulullah mengisahkan seseorang yang rambut acak-acakan, berdebu, dan
menengadahkan tangan ke langit untuk berdoa, ‘Ya Allah, ya Allah.’ Padahal,
makanannya haram. Minumannya haram. Pakaiannya haram. Dan, diberi makan dari
sumber haram. Bagaimana doanya dikabulkan?”
(Diriwayatkan
Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad).
Akhi, aktivis Islam, Anda harus membersihkan
“jalan-jalan” terkabulnya doa dari segala kotoran dosa.
3. Bisa jadi, Allah Ta’ala sengaja
menyimpan pahala doa dan baru Dia berikan kepada Anda do akhirat kelak atau Dia
menghilangkan keburukan dari Anda. Diriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu
Anhu bahwa
Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallambersabda,
“Jika
di atas bumi ada orang Muslim berdoa kepada Allah dengan satu doa, maka Dia
mengabulkan doa itu atau menghilangkan keburukan darinya, selagi ia tidak
mengerjakan doa atau memutus hubungan kekerabatan.” Seseorang berkata,
“Bagaimana kalau kita memperbanyak doa?” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam bersabda, “Allah lebih banyak lagi mengabulkan doanya atau menghilangkan
keburukan darinya.” (Diriwayatkan
At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Hakim).
Di
riwayat Al-Hakim ada tambahan,
“Atau
Allah menyimpan pahala seperti doa itu untuknya.” (Diriwayatkan
Al-Hakim).
Akhi, aktivis
Islam, barangkali, ini lebih baik bagi Anda, sebab dengan disimpannya pahala
doa di akhirat dan baru diberikan kepada Anda saat itu, maka itu mengangkat
derajat dan martabat Anda. Saat itu, Anda berbahagia dan berharap seandainya
seluruh pahala doa Anda disimpan dan baru dibagikan di akhirat.
4. Penundaan terkabulnya doa merupakan ujian baru dari
Allah Ta’ala kepada
seseorang. Allah Ta’ala ingin
menguji iman orang itu, dengan doa tidak segera dikabulkan, setan membisikan
pikiran jahat kepada seseorang, dengan berkata kepadanya, “Apa yang Anda minta
itu ada pada Allah. Kenapa doa Anda tidak segera dikabulkan?” Dan,
bisikan-bisikan jahat lainnya. Orang Muslim harus melawan bisikan jahat seperti
itu dan mengusirnya dari dirinya, dengan segala sarana. Ia harus tahu bahwa
jika hikmah di balik doa tidak dikabulkan dengan segera ialah Allah Ta’ala ingin
menguji hamba-Nya dengan cara memerangi iblis, maka hikmah itu sudah cukup
baginya.
5. Hikmah lain doa tidak segera dikabulkan ialah orang
Muslim tahu hakikat penting. Yaitu, ia hamba Allah Ta’ala,
Allah itu pemilik segala-galanya, dan pemilik berhak berbuat apa saja terhadap
miliknya, dengan cara memberi atau tidak memberi. Jika Dia mau memberi, maka
itu salah satu bentuk keadilan-Nya dan Dia punya alasan kuat di dalamnya. Anda
juga tahu, ternyata Anda bukan buruh yang langsung marah jika gajinya tidak
segera diberikan dan Anda tahu makna sabda Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam setelah
Perdamaian Al-Hudaibiyah,
“Aku
Rasulullah dan Allah tidak pernah akan menelantarkan aku.” (Diriwayatkan
Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
Ketika doa tidak segera
dikabulkan, maka iman seseorang teruji dan terlihat perbedaan antara orang
beriman sejati dengan orang beriman gadungan. Sikap orang Mukmin tidak berubah
terhadap Tuhannya ketika doanya tidak segera dikabulkan dan malah ia semakin
rajin beribadah kepada-Nya.
Setiap aktivis Islam harus ingat bahwa ketika Nabi
Ya’qub Alaihis
Salam kehilangan
anak kesayangannya, Nabi Yusuf Alaihis
Salam, beliau tidak henti-hentinya berdoa dan berdoa. Tapi pengabulan doa
beliau tertunda hingga waktu yang lama, hingga ada yang mengatakan, “Nabi
Ya’qub berdoa selama empat puluh tahun.”
Penderitaan dan cobaan yang dialami Nabi Ya’qub Alaihis
Salam semakin
meningkat. Anaknya yang lain, Bunyamin, hilang, dan kedua matanya buta karena
sedih. Kendati demikian, beliau tetap optimis bahwa penderitaan ini semua suatu
saat akan berakhir. Ketika itulah, beliau berkata,
“Mudah-mudahan
Allah mendatangkan mereka semua kepadaku, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi
Mahabijaksana.” (Yusuf:
83).
6. Kadang, doa yang tidak segera dikabulkan itu
membuat Anda selalu berdiri di depan Allah Ta’ala,
selalu merendahkan diri dan berlindung diri kepada-Nya. Sebaliknya, jika
permintaan Anda dikabulkan, maka Anda lebih sibuk, lalu Anda tidak ingat kepada
AllahTa’ala, tidak meminta dan berdoa kepada-Nya, padahal keduanya inti ibadah.
Inilah realitis sebagian besar kita. Buktinya, jika tidak ada cobaan, maka kita
tidak berlindung diri kepada Allah Ta’ala,
seperti dikatakan Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah.
Kadang, cobaan itu sendiri, saking beratnya, membuat Anda lupa Allah. Dan, jika
ada sesuatu yang mengiuatkan posisi Anda di depan Allah Ta’ala,
maka itu baik sekali bagi Anda. Ibnu Al-Jauzi meriwayatkan dari Yahya Al-Bakka’
(yang suka menangis) bahwa Yahya Al-Bakka’ bermimpi bertemu AllahTa’ala. Di
mimpi itu, Yahya AL-Bakka’ berkata, “Tuhanku, aku sudah sering berdoa
kepada-Mu, tapi Engkau tidak kunjung mengabulkan doaku?” Allah berfirman, “Hai
Yahya, Aku ingin selalu mendengar suaramu.”
7. Jika doa Anda segera dikabulkan Allah Ta’ala maka
bisa jadi Anda malah berbuat dosa, atau berdampak buruk pada agama Anda, atau
fitnah bagi Anda, atau apa yang Anda minta itu sekilas baik bagi Anda padahal
sebenarnya tidak baik bagi Anda. Terutama, bagi orang yang tidak berdia dengan
doa-doa yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam dan
mengajukan permintaan tertentu kepada Allah Ta’ala.
Diriwayatkan dari salah seorang generasi salaf bahwa
ia minta perang meletus kepada Allah, lalu ada suara yang berkata kepadanya,
“Jika engkau ikut perang, engkau ditawan. Dan, jika engkau ditawan, engkau
masuk Kristen.”
Setiap aktivis Islam harus memperhatikan doa-doa di
Al-Qur’an dan Sunnah. Semua yang telah saya sebutkan mengingatkan kita pada
firman Allah Ta’ala,
“Dan
manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan
manusia itu bersifat tergesa-gesa.” (Al-
Isra’: 11).
8. Setiap dia punya ketentuandan takaran. Adalah tidak
masuk akal, hari ini Anda berdoa Khilafah Islamiyah berdiri, lalu Anda tunggu
itu terwujud besok pagi. Doa agung ini punya takaran, syarat, sebab, prolog,
hasil, kerja keras, pengorbanan besar, kaderisasi generasi yang dididik Allah Ta’ala secara
langsun dan Dia siapkan berkuasa di atas bumi. Adalah tidak realistis, salah
seorang dari kita berdoa seperti doa tersebut hari ini dan minta terealisir
beberapa hari lagi! Seorang ahli tafsir menyebutkan bahwa jarak antara doa Nabi
Musa Alaihis
Salam,
“Ya
Tuhan kami, sesungguhnya Engkau memberi kepad Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya
perhiasan dan harta kekayaan di kehidupan dunia, ya Tuhan kami, akibatnya
mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakan harta
benda mereka, dan kunci mati hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga
mereka melihat siksaan yang pedih.” (Yunus:
88).
Dengan
terkabulnya doa dan firman Allah Ta’ala,
“Sesungguhnya
permohonan kamu berdua dikabulkan.” (Yunus:
89).
Itu
empat puluh tahun.
Mari
kita kaji. Pihak yang berdoa adalah Nabi Musa Alaihis
Salam, salah seorang dari rasul-rasul Ulul Azmi, sedang pihak yang
meng-amin-kannya ialah Nabi Harun Alaihis
Salam, nabi mulia. Keduanya telah memenuhi semua syarat dan etika doa. Pihak
yang didoakan celaka ialah Fir’aun dan konco-konconya, yang notabene manusia
paling dzalim, fasik, dan kafir, saat itu. Meski begitu, doa Nabi Musa Alaihis
Salam tidak
segera dikabulkan Allah Ta’ala.
Itulah takaran dan kelebihan doa itu. Yang bukan sembarang doa. Point ini
penting bagi siapa saja yang merenungkan dan mengkajinya.
KEMILAU (FITNAH) DUNIA
Q3.14 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak & sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia & di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”
Dari Amr bin ‘Auf radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya” [HR Bukhari & Muslim]
Q3.14 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak & sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia & di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”
Dari Amr bin ‘Auf radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya” [HR Bukhari & Muslim]
Dari Ka’ab bin ‘Iyadh radhiyallahu’anhu, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap umat memiliki
fitnah, sedangkan fitnah ummatku adalah harta” [HR Tirmidzi, dia
berkata hadits hasan sahih]
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dunia ini manis & hijau. Dan sesungguhnya Allah ta’ala menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Maka berhati-hatilah dari fitnah dunia & wanita” [HR Muslim]
Sifat kehidupan dunia
Q57.20. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan & suatu yang melalaikan, perhiasan & bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta & anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering & kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras & ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dunia ini manis & hijau. Dan sesungguhnya Allah ta’ala menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Maka berhati-hatilah dari fitnah dunia & wanita” [HR Muslim]
Sifat kehidupan dunia
Q57.20. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan & suatu yang melalaikan, perhiasan & bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta & anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering & kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras & ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
|
Investasi
& Monopoli
|
Q29.64. Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda
gurau & main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya
kehidupan, kalau mereka mengetahui.
Daya tarik dunia (materi)
Rasulullah SAW bersabda, “Sekiranya anak cucu Adam memiliki dua lembah emas niscaya dia tetap masih menginginkan lembah emas yg ketiga, & sekali-kali tidak akan penuh mulut anak cucu Adam kecuali tanah, & Allah menerima taubat bagi orang yang bertaubat” [HR Bukhari & Muslim]
BERORIENTASI DUNIA SAJA!
Q11.15-16. Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia & perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna & mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka & lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia & sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.
Q42:20. Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat maka akan Kami tambah keuntungan itu baginya, & barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia maka akan Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, & tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.
Q17.18. Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki & Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela & terusir.
Orang kafir hanya berorientasi dunia
Q14.3. (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.
Q76.27. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat).
Q2.212. Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.
Q6.29. Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan"
Q45.24. Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.
Q13.26. Allah meluaskan rezki & menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka (orang-orang kafir) bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).
Q87.16-17. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik & lebih kekal. Baca juga Q17.18, Q15.3.
Daya tarik dunia (materi)
Rasulullah SAW bersabda, “Sekiranya anak cucu Adam memiliki dua lembah emas niscaya dia tetap masih menginginkan lembah emas yg ketiga, & sekali-kali tidak akan penuh mulut anak cucu Adam kecuali tanah, & Allah menerima taubat bagi orang yang bertaubat” [HR Bukhari & Muslim]
BERORIENTASI DUNIA SAJA!
Q11.15-16. Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia & perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna & mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka & lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia & sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.
Q42:20. Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat maka akan Kami tambah keuntungan itu baginya, & barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia maka akan Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, & tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.
Q17.18. Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki & Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela & terusir.
Orang kafir hanya berorientasi dunia
Q14.3. (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.
Q76.27. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat).
Q2.212. Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.
Q6.29. Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan"
Q45.24. Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.
Q13.26. Allah meluaskan rezki & menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka (orang-orang kafir) bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).
Q87.16-17. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik & lebih kekal. Baca juga Q17.18, Q15.3.
”Seorang kafir jika berbuat kebaikan di dunia, maka segera
diberi balasannya di dunia. Adapun orang mu’min jika berbuat kebajikan, maka
tersimpan pahalanya di akhirat di samping rizqi yang diterimanya di dunia atas
keta’atannya.” (HR Muslim)
Fatamorgana
Q24.39. Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun...
DUNIA DI HADAPAN ALLAH & RASUL-NYA (dan Orang-orang yang Beriman)
Al Mustaurid bin syadad ra berkata, Rasulullah saw bersabda, ”Tiadalah perbandingan dunia ini dengan akhirat, kecuali seperti seorang yang memasukan jarinya ke dalam lautan luas maka perhatikanlah yang tersisa” [HR Muslim]
Rasulullah SAW bersabda: "Apa artinya dunia bagiku! Kehadiranku di dunia hanyalah bagaikan seorang pengelana yang tengah berjalan di panas terik matahari, lalu berteduh di bawah naungan pohon beberapa saat, kemudian segera meninggalkannya untuk kembali melanjutkan perjalanan.” [HR At-Tirmidzi]
Pada suatu ketika, beberapa orang sahabat Rasulullah saw datang menemui beliau, berikut juga Umar radhiallaahu anhu. Rasulullah saw lantas bangkit merubah posisinya, Umar ra melihat tidak ada kain yg melindungi tubuh Rasulullah saw tikar yg dipakainya berbaring. Ternyata tikar tersebut membekas pada tubuh beliau. Melihat pemandangan itu Umar ra pun menangis. Rasulullah saw bertanya kepadanya: "Apakah gerangan yg membuatmu menangis wahai Umar?" ia menjawab: "Demi Allah, karena saya tahu bahwa engkau tentu lebih mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala daripada raja Kisra maupun Kaisar. Mereka dapat berpesta pora di dunia sesuka hatinya. Sedangkan Engkau adalah seorang Utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala namun keadaan engkau sungguh sangat memprihatinkan sebagaimana yg aku saksikan sekarang," Rasulullah saw bersabda: "Tidakkah engkau ridha wahai Umar, kemegahan dunia ini diberikan bagi mereka, sedangkan pahala akhirat bagi kita!" Umar ra menjawab: "Tentu saja!" "Demikianlah adanya!" jawab Rasulullah saw" [HR Ahmad]
"Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, dan sebagai syurga bagi orang kafir" [HR Muslim]
Ket.: Dunia bagi orang Mukmin & Muslim seperti penjara karena mereka terikat oleh hukum agama (syariat) yang tidak boleh dilanggar, sedangkan yang demikian terhadap si kafir seperti syurga karena tidak terikat oleh hukum agama (no halal no haram!).
Hina bagaikan bangkai anak kambing yang cacat...
"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke pasar dari arah 'Aliyah & para shahabatnya berada di sekitarnya, beliau melewati bangkai anak kambing yang telinganya kecil lalu beliau mengambilnya dengan memegang telinganya kemudian bersabda: "Siapakah diantara kamu yang mau membelinya dengan harga satu dirham?" Mereka berkata: "Kamu tidak suka bangkai itu menjadi milik kami, apa yang bisa kami gunakan darinya". Beliau bersabda: "Atau kamu suka bangkai ini menjadi milikmu?" Mereka berkata: "Demi Allah, kalaupun ia masih hidup maka ia binatang yang mempunyai aib karena telinganya kecil, bagaimana jadinya kalau ia bangkai?" Beliau bersabda: "Demi Allah, dunia lebih hina bagi Allah dari bangkai ini untuk kalian" [HR Muslim]
Nilai penghambaan kita terhadap Allah swt jauh lebih bernilai di sisi-Nya dibanding dunia dan seisinya...
"Dua raka'at shalat fajr (sebelum subuh) lebih baik dari pada dunia dan seisinya." [HR Muslim]
Dunia ini terlaknat kecuali dzikrullah...
Dari Abu Hurairah ra, saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ”Ketahuilah bahwa dunia terkutuk & semua yang didalamnya terlaknat, kecuali dzikrullah & segala apa yang sederajat dengan itu & orang alim yang mengerti serta orang yang mempelajari” [HR Tirmidzi]
Q24.39. Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun...
DUNIA DI HADAPAN ALLAH & RASUL-NYA (dan Orang-orang yang Beriman)
Al Mustaurid bin syadad ra berkata, Rasulullah saw bersabda, ”Tiadalah perbandingan dunia ini dengan akhirat, kecuali seperti seorang yang memasukan jarinya ke dalam lautan luas maka perhatikanlah yang tersisa” [HR Muslim]
Rasulullah SAW bersabda: "Apa artinya dunia bagiku! Kehadiranku di dunia hanyalah bagaikan seorang pengelana yang tengah berjalan di panas terik matahari, lalu berteduh di bawah naungan pohon beberapa saat, kemudian segera meninggalkannya untuk kembali melanjutkan perjalanan.” [HR At-Tirmidzi]
Pada suatu ketika, beberapa orang sahabat Rasulullah saw datang menemui beliau, berikut juga Umar radhiallaahu anhu. Rasulullah saw lantas bangkit merubah posisinya, Umar ra melihat tidak ada kain yg melindungi tubuh Rasulullah saw tikar yg dipakainya berbaring. Ternyata tikar tersebut membekas pada tubuh beliau. Melihat pemandangan itu Umar ra pun menangis. Rasulullah saw bertanya kepadanya: "Apakah gerangan yg membuatmu menangis wahai Umar?" ia menjawab: "Demi Allah, karena saya tahu bahwa engkau tentu lebih mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala daripada raja Kisra maupun Kaisar. Mereka dapat berpesta pora di dunia sesuka hatinya. Sedangkan Engkau adalah seorang Utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala namun keadaan engkau sungguh sangat memprihatinkan sebagaimana yg aku saksikan sekarang," Rasulullah saw bersabda: "Tidakkah engkau ridha wahai Umar, kemegahan dunia ini diberikan bagi mereka, sedangkan pahala akhirat bagi kita!" Umar ra menjawab: "Tentu saja!" "Demikianlah adanya!" jawab Rasulullah saw" [HR Ahmad]
"Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, dan sebagai syurga bagi orang kafir" [HR Muslim]
Ket.: Dunia bagi orang Mukmin & Muslim seperti penjara karena mereka terikat oleh hukum agama (syariat) yang tidak boleh dilanggar, sedangkan yang demikian terhadap si kafir seperti syurga karena tidak terikat oleh hukum agama (no halal no haram!).
Hina bagaikan bangkai anak kambing yang cacat...
"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke pasar dari arah 'Aliyah & para shahabatnya berada di sekitarnya, beliau melewati bangkai anak kambing yang telinganya kecil lalu beliau mengambilnya dengan memegang telinganya kemudian bersabda: "Siapakah diantara kamu yang mau membelinya dengan harga satu dirham?" Mereka berkata: "Kamu tidak suka bangkai itu menjadi milik kami, apa yang bisa kami gunakan darinya". Beliau bersabda: "Atau kamu suka bangkai ini menjadi milikmu?" Mereka berkata: "Demi Allah, kalaupun ia masih hidup maka ia binatang yang mempunyai aib karena telinganya kecil, bagaimana jadinya kalau ia bangkai?" Beliau bersabda: "Demi Allah, dunia lebih hina bagi Allah dari bangkai ini untuk kalian" [HR Muslim]
Nilai penghambaan kita terhadap Allah swt jauh lebih bernilai di sisi-Nya dibanding dunia dan seisinya...
"Dua raka'at shalat fajr (sebelum subuh) lebih baik dari pada dunia dan seisinya." [HR Muslim]
Dunia ini terlaknat kecuali dzikrullah...
Dari Abu Hurairah ra, saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ”Ketahuilah bahwa dunia terkutuk & semua yang didalamnya terlaknat, kecuali dzikrullah & segala apa yang sederajat dengan itu & orang alim yang mengerti serta orang yang mempelajari” [HR Tirmidzi]
[dunia adalah ladang untuk akhirat]
BERORIENTASI DUNIA ATAU AKHIRAT?
Q29.64. Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda
gurau & main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya
kehidupan, kalau mereka mengetahui.
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang menjadikan kegelisahan, kegundahan, cita-cita & tujuannya hanya satu, yaitu akhirat, maka Allah akan mencukupi semua keinginannya. Barangsiapa yang keinginan & cita-citanya bercerai-berai kepada keadaan-keadaan dunia, materi duniawi, yang dipikirkan hanya itu saja, maka Allah tidak akan peduli di lembah mana dia binasa" [HR Ibnu Majah; sanadnya hasan]
”Barang siapa yang fokus perhatiannya hanya akhirat maka Allah akan kokohkan urusannya & Allah jadikan kekayaannya di dalam hatinya & dunia datang padanya tanpa diminta, & barang siapa yang fokus perhatiannya hanya pada dunia maka Allah cerai beraikan urusannya & Allah jadikan kefakirannya di depan kedua matanya & tidaklah datang dunia kepadanya kecuali yang telah Allah tetapkan baginya” [HR Ibnu Majah]
Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kecukupan dalam hatinya, Allah mengumpulkan urusannya, & dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina. Barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kemelaratan ada di depan matanya, Allah mencerai-beraikan urusannya, & dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja" [HR At-Tirmidzi dll; hadits shahih]
Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jadilah kamu di dunia seperti halnya orang asing atau orang yang sekedar numpang lewat/musafir” [HR Bukhari]
Q42.20. Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.
Q17.19. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.
Jangan lupakan dunia!
Q28.77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, &janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi & berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, & janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
”Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” (HR. Bukhari).
Lihatlah ke bawah!
"Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian & jangan melihat orang yang lebih di atas kalian. Yang demikian ini (melihat ke bawah) akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kalian" [HR Muslim]
Kekurangan harta (miskin)?
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang menjadikan kegelisahan, kegundahan, cita-cita & tujuannya hanya satu, yaitu akhirat, maka Allah akan mencukupi semua keinginannya. Barangsiapa yang keinginan & cita-citanya bercerai-berai kepada keadaan-keadaan dunia, materi duniawi, yang dipikirkan hanya itu saja, maka Allah tidak akan peduli di lembah mana dia binasa" [HR Ibnu Majah; sanadnya hasan]
”Barang siapa yang fokus perhatiannya hanya akhirat maka Allah akan kokohkan urusannya & Allah jadikan kekayaannya di dalam hatinya & dunia datang padanya tanpa diminta, & barang siapa yang fokus perhatiannya hanya pada dunia maka Allah cerai beraikan urusannya & Allah jadikan kefakirannya di depan kedua matanya & tidaklah datang dunia kepadanya kecuali yang telah Allah tetapkan baginya” [HR Ibnu Majah]
Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kecukupan dalam hatinya, Allah mengumpulkan urusannya, & dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina. Barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kemelaratan ada di depan matanya, Allah mencerai-beraikan urusannya, & dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja" [HR At-Tirmidzi dll; hadits shahih]
Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jadilah kamu di dunia seperti halnya orang asing atau orang yang sekedar numpang lewat/musafir” [HR Bukhari]
Q42.20. Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.
Q17.19. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.
Jangan lupakan dunia!
Q28.77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, &janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi & berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, & janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
”Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” (HR. Bukhari).
Lihatlah ke bawah!
"Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian & jangan melihat orang yang lebih di atas kalian. Yang demikian ini (melihat ke bawah) akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kalian" [HR Muslim]
Kekurangan harta (miskin)?
"Aku berdiri di depan pintu syurga, lalu (kulihat)
kebanyakan yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang miskin, sementara
orang-orang yang kaya masih tertahan (untuk dihisab) kecuali penghuni neraka
mereka (telah) disuruh untuk masuk ke neraka, ..." [HR Muslim]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Maukah kamu aku beritahu tentang ahli surga? (yaitu) setiap (muslim) yang lemah dan diremehkan, seandainya dia bersumpah atas nama Allah niscaya Allah meluluskannya. Maukah kamu aku beritahukan tentang ahli neraka? (yaitu) setiap orang yang keras, kasar, penumpuk harta dan sombong" [HR Bukhari & Muslim]
Kaya?
Dari Abu Huraerah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Bukanlah kekayan itu dengan banyaknya harta. Tetapi, sesungguhnya kaya itu ialah kaya jiwa” [HR Bukhari & Muslim]
Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman, `Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan & Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan & tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)" [HR Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah & Al-Hakim]
Q22.64. Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Harta?
Harta seseorang adalah apa yang dia makan lalu habis, apa yang dia pakai lalu usang, dan apa yang telah dia nafkahkan dan sedekahkan. Sedangkan harta yang dia simpan dan kumpulkan adalah harta milik ahli warisnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Maukah kamu aku beritahu tentang ahli surga? (yaitu) setiap (muslim) yang lemah dan diremehkan, seandainya dia bersumpah atas nama Allah niscaya Allah meluluskannya. Maukah kamu aku beritahukan tentang ahli neraka? (yaitu) setiap orang yang keras, kasar, penumpuk harta dan sombong" [HR Bukhari & Muslim]
Kaya?
Dari Abu Huraerah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Bukanlah kekayan itu dengan banyaknya harta. Tetapi, sesungguhnya kaya itu ialah kaya jiwa” [HR Bukhari & Muslim]
Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman, `Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan & Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan & tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)" [HR Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah & Al-Hakim]
Q22.64. Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Harta?
Harta seseorang adalah apa yang dia makan lalu habis, apa yang dia pakai lalu usang, dan apa yang telah dia nafkahkan dan sedekahkan. Sedangkan harta yang dia simpan dan kumpulkan adalah harta milik ahli warisnya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, dia berkata,
"Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Seorang hamba berkata, 'Hartaku, hartaku!' Padahal dari hartanya
dia hanya mendapatkan tiga perkara yaitu 'Apa yang dimakan lalu ia habis,
atau apa yang dipakai lalu ia usang, atau apa yang dia berikan lalu dia
menyimpan pahalanya di akhirat'. Selain itu ia adalah lenyap dan (menjadi)
barang peninggalannya untuk orang (selainnya)."" [HR Muslim]
...harta yang dinafkahkan di jalan Allah subhanahu wa ta'ala
adalah harta kita yang sesungguhnya!
Jabatan?
"Janganlah kamu meminta jabatan dalam pemerintahan. Karena jika kamu diberi jabatan karena permintaanmu, maka bebanmu sungguh berat. Tetapi jika kamu diberi jabatan tanpa kamu minta, maka kamu akan dibantu oleh orang banyak" [HR Muslim dari Abdurrahman bin samurah r.a.]
Abu Dzar ra berkata: Saya bertanya, "Ya Rasulullah mengapa engkau tidak memberiku jabatan?" Maka Rasulullah menepukan tangannya pada pundakku, lalu Beliau bersabda: "Hai Abu Dzar, sungguh kamu ini lemah, sedangkan jabatan adalah amanah, dan jabatan itu akan menjadi kehinaan serta penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memperolehnya dengan benar dan melaksanakan kewajibannya dalam jabatannya" [HR Muslim]
Bahagia & Kenikmatan Dunia?
Kita akan memperoleh kebahagian atau kenikmatan dunia jika dalam keseharian kita terpenuhi minimal 3 hal yaitu Sehat, Aman (bebas dari ketakutan, kekhawatiran dan kecemasan), dan Memiliki Makanan Pokok untukHari itu...
Jabatan?
"Janganlah kamu meminta jabatan dalam pemerintahan. Karena jika kamu diberi jabatan karena permintaanmu, maka bebanmu sungguh berat. Tetapi jika kamu diberi jabatan tanpa kamu minta, maka kamu akan dibantu oleh orang banyak" [HR Muslim dari Abdurrahman bin samurah r.a.]
Abu Dzar ra berkata: Saya bertanya, "Ya Rasulullah mengapa engkau tidak memberiku jabatan?" Maka Rasulullah menepukan tangannya pada pundakku, lalu Beliau bersabda: "Hai Abu Dzar, sungguh kamu ini lemah, sedangkan jabatan adalah amanah, dan jabatan itu akan menjadi kehinaan serta penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memperolehnya dengan benar dan melaksanakan kewajibannya dalam jabatannya" [HR Muslim]
Bahagia & Kenikmatan Dunia?
Kita akan memperoleh kebahagian atau kenikmatan dunia jika dalam keseharian kita terpenuhi minimal 3 hal yaitu Sehat, Aman (bebas dari ketakutan, kekhawatiran dan kecemasan), dan Memiliki Makanan Pokok untukHari itu...
Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada
keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka
seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya. [HR Ibnu Majah, no. 4141; dan
lain-lain; dihasankan oleh Syaikh Al Albani di dalam Shahih Al Jami’ush
Shaghir, no. 5918]
Ada satu ayat dalam Quran yang mengisyaratkan tentang
kebahagiaan...
Q46.13. "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan
kami ialah Allah', kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka & mereka tiada (pula) berduka cita".
Dari ayat di atas ada 2 (dua) hal yang menjadi kunci
bahagia yaitu:
1. Iman (beriman) kepada Allah swt & meng-ikhlash-kannya, yakin & patuh kepada Zat yang telah menciptakannya. (karena kebahagiaan adalah kepunyaan Allah swt juga).
2. Istiqamah, teguh pendirian dalam tauhid & tetap beramal yang saleh.
Bahagia... Seseorang yang mengucapkan 'bismillah' tatkala akan memakan (hanya) sepotong roti & mengucapkan 'alhamdulillah' setelah dia selesai memakannya...
Dengan Iman & Istiqamah, bahagia akan diperoleh, dengan ciri-ciri...
1. Iman (beriman) kepada Allah swt & meng-ikhlash-kannya, yakin & patuh kepada Zat yang telah menciptakannya. (karena kebahagiaan adalah kepunyaan Allah swt juga).
2. Istiqamah, teguh pendirian dalam tauhid & tetap beramal yang saleh.
Bahagia... Seseorang yang mengucapkan 'bismillah' tatkala akan memakan (hanya) sepotong roti & mengucapkan 'alhamdulillah' setelah dia selesai memakannya...
Dengan Iman & Istiqamah, bahagia akan diperoleh, dengan ciri-ciri...
- Selalu
ada Allah swt dalam hati & kehidupannya.
- Merasa
bahagia dengan bisa beribadah & sujud kepada Allah swt.
- Mengikrarkan
"Allah... saya bahagia bisa dekat dengan Kau... alhamdulillah"
- Ridho
dengan segala apa yang Allah swt tentukan, putuskan & takdirkan atas
ditrinya.
- Qana'ah
- Merasakan
kelezatan iman, Allah & Rasul-Nya lebih dia cintai; Mencintai karena
Allah; benci karena Allah.
Sarana istirahatnya orang bahagia adalah bisa shalat
dengan khusyu... merasa dekat dengan Allah swt. Bukan pada pemandangan
yang indah, harta yang banyak, makanan yang enak, alunan musik dst...
Kebahagiaan akan sirna jika seseorang melakukan "dosa" atau maksiat kepada Allah swt dengan ciri-ciri:
Kebahagiaan akan sirna jika seseorang melakukan "dosa" atau maksiat kepada Allah swt dengan ciri-ciri:
- Gelisah
- Takut
diketahui orang lain
- Hati
menjadi kotor dan terhijab dari kebenaran.
Ketiadaan dien dalam diri dan jiwa
menyebabkan seseorang tidak tahu akan tujuan hidup dan akan salah dalam
memahami arti kehidupannya.
Sudah "kaya" secara materi, mereka akan "terus
dan terus mencari sesuatu" ...keinginan untuk diakui
(eksistensi), dihargai, dihormati, dst. ...ingin menjadi lebih dari yang lain,
ingin menjadi nomor satu dan ingin-ingin yang lainnya sampai mereka binasa.
KEBENARAN
Kebenaran adalah apa-apa yang datang dari sisi Allah subhanahu wa ta'ala & Rasul-Nya. detail...
KEBAJIKAN DAN DOSA
“Kebajikan adalah bagusnya akhlak, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwamu dan kamu tidak suka apabila hal itu diketahui oleh orang lain.” (HR Muslim)
Hati nurani tidak bisa dibohongi
Mintalah fatwa kepada hati dan jiwamu. Kebajikan ialah apa yang menyebabkan jiwa dan hati tentram kepadanya, sedangkan dosa ialah apa yang merisaukan jiwa dan menyebabkan ganjalan dalam dada walaupun orang-orang meminta atau memberi fatwa kepadamu. (HR Muslim)
Akhirnya...
Q3.85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
Q15.2. Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.
Q40.39. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.
Q35.5. Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah SYAITAN yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.
Sepenggal syair dari Aa Gym...
Hidup di dunia sebentar saja, sekedar mampir sekejap mata
Jangan terpesona jangan terpedaya
Akherat nanti tempat pulang kita, akherat nanti hidup sebenarnya
Barang siapa Allah tujuannya, niscaya dunia akan melayaninya
Namun siapa dunia tujuannya...
Niscaya kan letih & pasti sengsara, diperbudak dunia sampai akhir masa
Celupkan Jarimu Ke Air Lautan…
Karya Taufiq Ismail, diambil dari Remembrance of Alloh
Wahai Rasulullah tercinta
Bandingkan dunia kini
Dengan akhirat nanti.
Menjawablah Rasulullah
Sallallahu’Alaihi wa Sallam
Celupkan jarimu ke air lautan
Air yang menetes dari ujung jarimu
Itulah dunia seisinya
Air yang ada diselebihnya di lautan
Air yang tersebar di tujuh samudera
Itulah akhirat nanti
Wahai alangkah kecil arti dunia
Wahai alangkah kerdil arti dunia
Wahai alangkah remeh makna dunia
Wahai alangkah tak berartinya dunia
Yang mengejar akhirat
Mendapat akhirat & dunia
Yang mengejar dunia
Cuma mendapat dunia
Dibalik
Ujian...
|
Ujian untuk...
|
Hidup ini memang penuh
dengan ujian. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua orang akan diuji oleh Allah
swt. Baik berupa kesulitan maupun kemudahan, kekurangan maupun kelebihan,
kemiskinan maupun kekayaan. Yang menjadi prioritas utama kita adalah bagaimana
kita menyikapi ujian yang datang kepada kita. Dan untuk menyikapi ujian
tersebut, akan sangat baik jika kita tahu hakikat di balik ujian yang diberikan
Allah swt melalui hadits-hadits Rasulullah saw berikut:
·
Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan.
Sesungguhnya Allah ’Azza wa jalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji
mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa
murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi).
·
Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu,
kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR.
Bukhari)
·
Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, ”Aku bertanya kepada Rasulullah
saw, ”Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?”
Nabi saw menjawab, ”Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang
meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau
agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya
kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia
berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)
·
Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji
(dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari).
·
Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak
dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan
mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani)
·
Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah
mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi)
·
Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan
dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad)
·
Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan),
diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk
(tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari)
·
Seorang mukmin meskipun dia masuk ke dalam lobang biawak, Allah
akan menentukan baginya orang yang mengganggunya. (HR. Al Bazzaar)
·
Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat
bertanya, ”Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?” Nabi saw menjawab,
”Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya.” (HR.
Ahmad dan Tirmidzi)
·
Allah menguji hambaNya dengan menimpakan musibah sebagaimana
seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas
murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang
dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas
hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani)
·
Salah seorang dari mereka lebih senang mengalami ujian dan
cobaan daripada seorang dari kamu (senang) menerima pemberian. (HR. Abu Ya’la)
·
Sesungguhnya Allah Azza Wa jalla menguji hambanya dalam rezeki
yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridha dengan bagian yang diterimanya
maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberian-Nya. Kalau dia tidak
ridho dengan pemberian-Nya maka Allah tidak akan memberinya berkah. (HR. Ahmad)
·
Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya
lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak
atas Allah untuk mengampuninya. (HR. Ath-Thabrani)
·
Bencana yang paling payah ialah bila kamu membutuhkan apa yang
ada di tangan orang lain dan kamu ditolak (pemberiannya). (HR. Ad-Dailami)
·
Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi
lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan
mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi)
Comments
Post a Comment