| J |
arum jam menunjukkan pukul 06.20 a.m. Seperti biasa Vika-mahasiswi D-3 jurusan Akuntansi, sudah duduk di bangku stasiun Manggarai, menanti dengan setia KRL ekonomi tujuan Bogor untuk mengantarnya ke kampus. Satu semester sudah telah dilalui, membuat Vika telah expert dalam menjadi penumpang KRL ekonomi yang notabennya rawan kejahatan. Berbagai hal banyak ditemui Vika di kereta yang menghabiskan waktu 20 menit untuk sampai di stasiun kampusnya. Salah satunya, nggak lain soal cinta. Cinta yang bersemi di kereta.
Awalnya Vika selalu memperhatikan satu per satu orang yang naik kereta, khususnya cowok, mulai dari bawah sampai ujung kepala dan menilai apakah cowok tersebut patut dikategorikan sebagai orang ganteng atau justru jauh dari kategori tersebut. Stasiun demi stasiun dilewati hingga pada stasiun Pasar minggu, ketika kereta mulai melaju pelan dan akhirnya berhenti, seorang cowok berkulit putih, tinggi, rambut di spike berdiri tepat dihadapannya. Mata Vika pun terbuka lebar, terpesona melihat ketampanan cowok itu. Apalagi ketika cowok itu menyadari tatapan Vika padanya. Jantung Vika berdegup kencang saat cowok itu naik kereta dan berdiri di sampingnya. Hal itu membuat Vika mati gaya. Hingga sampai di stasiun tujuannya, Vika masih berdiri terpaku disamping cowok itu, tanpa takut terbawa kereta ke stasiun berikutnya. Vika pun segera sadar ketika cowok itu bersiap-siap berdiri di dekat pintu, dan tanpa sadar ia mengikutinya. Dan tak disangka, saat kereta berhenti, cowok itu mempersilahkan Vika, yang berdiri dibelakangnya untuk turun lebih dulu.
“Oh my God, gallant and gantle banget sih dia. Ini dia cowok yang udah langka di muka bumi ini, dan limited edition.” gumam Vika yang berjalan menuju pintu keluar. Vika pun menoleh ke belakang, memastikan keberadaan cowok tadi. Deg. Postur cowok keren yang dirasa kenal berada tepat di belakangnya, dan ketika ia menaikkan kepalanya 5 derajat, dua pasang bola mata melihat ke arahnya. Vika pun malu setengah mati.
“Gak banget sih gue. Kayak orang norak aja, dan baru pertama kali liat cowok ganteng.” Gumam Vika.
Vika pun melanjutkan langkahnya keluar stasiun, dan menuju halte. Wajahnya masih terlihat sumringah. Saat ia menelusuri lorong menuju halte, seseorang memanggilnya.
“Oii Vika!” Pandangan Vika yang lurus kedepan pun teralihkan dengan panggilan cewek yang telah duduk di pinggiran lorong. “Hai Ria.” Sambut Vika penuh semangat dan segera duduk di sampingnya. Keberadaan teman dekatnya tidak membuat Vika lupa akan cowok tadi. Matanya pun langsung melihat ke sudut-sudut jalan.
“Yah, kok gak ada sih. Kemana lagi dia?” keluh Vika dalam hatinya. Sikap Vika yang grasak-grusuk membuat Ria yang duduk disampingnya terganggu.
“Lo kenapa sih, Vik?” tanya Ria jengkel.
“Hmmm, gak apa-apa.” Kata Vika yang masih mencari keberadaan cowok itu. Dan sssettt, matanya langsung menangkap cowok itu yang telah berdiri depan halte saat bis kampus datang. Vika pun segera berdiri. “Eh bisnya udah dateng.” Seru Vika.
“Ah ntar aja. Dibelakang juga ada lagi. Itu juga penuh banget, Vik.” Seru Ria yang masih duduk dengan santai.
Vika yang telah berdiri akhirnya duduk lagi dibelah Ria. Namun matanya terus melihat ke arah cowok itu. Tiba-tiba ia menyadari Selly berada di dekat gebetannya. Selly ialah teman sekelas Vika yang paling cantik dan pada semester kemarin ip-nya 3.90 dan selalu menang dalam kompetisi akuntansi. Tak lama bis kampus berikutnya datang lagi. Vika pun segera turun, melihat cowok keren tadi yang belum naik bis.
©©©
Hampir sebulan berlalu. Dan hampir sebulan pula Vika selalu semangat tiap berangkat ke kampus berkat kehadiran ‘cowok keren di pasar minggu’-begitu ia menyebutnya. Meski sebulan telah berlalu, namun hingga sampai saat ini Vika belum mengetahui nama ‘cowok keren di pasar minggu’.
Tiap hari Vika selalu berharap bertemu dengan ‘cowok keren di pasar minggu’. Ia pun berusaha bangun pagi dan selalu on time menanti kereta agar bisa naik kereta yang sama. Vika selalu menanti cowok itu di gerbong yang sama saat pertama kali ia bertemu dengan cowok idamannya. Sebuah hal sepele yang sering terjadi, telah membuat Vika ge-er karena tatapan mata cowok itu yang sering tertuju padanya.
Sampai-sampai saat Vika menelusuri lorong menuju kelasnya pagi itu, wajahnya masih sumringah dengan tertawa bahagia sendiri. Teman segenk-nya-Intan telah duduk di bangkunya, heran melihat wajah Vika yang berbinar-binar.
“Kesambet apa lo, Vik, pagi-pagi udah senyum-senyum sendirian!” celetuk Intan.
Dengan sikap centilnya Vika mendekati Intan.
“Tan, lo masih inget kan, anak mesin yang pernah gue kasih tau waktu di kantek, yang sama Imam.” Jelas Vika semangat.
“Ahaha. Iya. Yang kata lo mirip Ariel tapi versi putihnya itu?” tanya Intan yang mencoba mengingat kembali. Vika mengganggukkan kepalanya dengan semangat.
“Iya. Tau ga sih, tadi gue dong sebipol lagi sama dia. Dan kali ini, gue sama dia deket banget. Sampai dia ngga sengaja pegang tangan gue waktu pegangan.” Jelas Vika.
“Cieeh... Eh tapi lo udah tau belum namanya?” tanya Intan. Vika menggelengkan kepalanya lesu.
“Yah gimana sih. Kenalan dong. Katanya dia deketin lo mulu. Sapa kek sekali-kali.” Ledek Intan.
“Malu dong. Tengsin lah, masa gue sih yang harus ngejar-ngejar dia duluan.”
Tak lama, tiba-tiba Ria datang dan menghampiri mereka berdua dengan tergesa-gesa. Ia langsung duduk sebelah Vika sambil mengotak-atik handphonenya.
“Vik, Vik.. gue nemuin fb dan kayanya ini Ariel yang lo maksud dah.” Kata Ria memberikan handphonenya. Intan pun mendekati Vika, ikut melihat fb yang dikasih unjuk Ria.
“Gue nemuin fb si Ariel di fbnya Selly. Dan kayanya Selly udah lama jadi Friendnya Ariel di Facebook.” Bisik Ria.
“Serius lo, Ri? Kok bisa sih? Kenal dari mana dia?” Vika syok.
“Ya ngga tau. Mungkin dia punya temen di Teknik Mesin, terus dia minta kenalin sama Ariel.” Vika bengong.
“Dor.” Intan mengagetkan Vika. “Lo kenapa jadi bebngong sih, Vik? Bukannya buruan nge-add...” seru Intan.
“Tau nih. Ntar keburu direbut Selly loh. Lagian yak, waktu itu gue denger anak-anak ngomongin Selly sama Zulfikhar soal nomor hape si Ariel dari Kaka.” Bujuk Ria.
“Sssttt, ngomongnya jangan Zulfikhar. Ntar ada yang denger disangka ada apa-apa lagi. Pake inisial aja-si Ariel.” Seru Intan.
“Gimana mau nge-add? Bayangin aja, masa gue harus saingan sama Selly - cewek perfect yang udah cantik, pinter, ip 3.9 semester kemerin dan selalu menang kompetisi akuntansi. Lagian kenapa coba, gue sama dia mesti naksir sama cowok yang sama. Kenapa selera gue sama dia mesti sama sih. Jelas-jelas gue sama Selly kualitasnya beda jauh. Ibarat dia original dan gue KW1.” Vika curhat.
“Belum apa-apa udah nyerah!” gumam Intan.
“Lagian lo belum tau kan si Ariel orangnya kaya gimana. Mungkin aja tipe cewek yang dia suka bukan kaya Selly. Mungkin aja lo yang dia taksir.” Kata Ria bijak.
“Bisa aja lo, hibur gue.” Kata Vika hopeless.
©©©
Semenjak mengetahui hal itu, Vika memutuskan untuk berhenti memikirkan Zulfikhar. Karena itu, Vika berusaha untuk tidak bertemu lagi dengan Zulfikhar. Vika berusaha untuk bangun kesiangan agar ketinggalan kereta ekonomi yang biasanya ia naikin.
“Enough. I think, this is the end of my love story.” Gumam Vika saat melewati pasar minggu setelah memutuskan untuk tidak tergila-gila lagi dengan ‘cowok keren di pasar minggu’ yang bernama Zulfikhar.
Ketika masuk kelas, yang pastinya berbeda dari hari kemarin, Vika masuk dengan wajah yang kusut dan di tekuk. Intan yang seperti biasa telah datang duluan, heran melihat Vika. “Kesambet apa lo, Vik, pagi-pagi udah ditekuk tuh muka?” seru Intan.
“Sekarang hari apa sih, Tan?” tanya Vika.
“Selasa. Kuliah gak niat yak lo. Masa hari aja lupa.”
“Aahh, buruan kek hari jum’at gue mau buru-buru libur.”
“Baru kemaren weekend, masa udah mau weekend lagi. Perasaan nih yak, kemarin-kemarin kalo jum’at dateng lo selalu bilang ‘buruan kek hari senen’. Lah sekarang, baru hari selasa udah mau weekend. Lo kenapa sih? Bosen kuliah?”
Belum sempat Vika menjawab, tiba-tiba Selly dan Yuli datang. Wajah Selly terlihat bahagia sama seperti wajah Vika saat tergila-gila pada Zulfikhar. Mereka yang baru datang langsung duduk di bangku mereka. Dan Yuli yang berangkat bareng Selly langsung celetuk di depan anak-anak.
“Tau ga sih, tadi kan Selly mau jatoh waktu bipol ngerem mendadak. Terus dipegangin sama Zulfikhar.”seru Yuli lugu.
Anak-anak pun ribut, menggoda Selly yang makin tersipu malu atas kejadian tadi. Lain halnya dengan Vika yang justru mencoba tetap tersenyum meski hatinya ingin menjerit.
©©©
Saat istirahat, Vika yang masih sedih mengajak teman-teman dekatnya untuk makan di kantek (kantin Teknik). Ia berharap bisa melupakan sejenak kesedihannya dan menjauh dari Selly yang sedang berbunga-bunga. Ketika berjalan menuju kantek dan ketika melewati pendopo teknik, terdapat segerombolan anak-anak cowok yang sedang berkumpul. Salah satu cowok memandangi Vika dan teman-temannya yang lewat depan mereka. Dan saat Vika melirik, terrnyata Zulfikhar. Dengan segera Vika membuang muka padanya dan mempercepat langkahnya.
“Apa-apaan sih gue. Gak seharusnya gue buang muka sama dia. Dia kan belum tentu kenal gue dan anggap gue special di mata dia, dan memiliki rasa seperti rasa gue ke dia.” Gumam Vika dalam hati.
“Ehem.. ehem.” Seru teman-teman Vika setelah melewati Zulfikhar.
“Cie Vika. Siapa tuh tadi?” seru Sari.
“Siapa? Gue gak kenal ah.” Seru Vika yang mencoba menengok dan melihat Zulfikhar. Deg. Saat Vika nengok kebelakang, Zulfikhar pun melihat kearahnya. Dengan segera Vika pun memalingkan wajahnya.
“Astaga. Kenapa sih gue selalu negative thinking, selalu berpikir kalo Zulfikhar selalu memperhatikan gue dan ada something special diantara gue dan dia.” Gumam Vika lagi.
Vika mencoba melupakan tatapan Zulfikhar tadi padanya. Ia dan teman-teman dekatnya yang diberi nama ASBOY pun mengisi salah satu meja di kantek.
“Vik, gimana si Ariel? Udah lo add belum?” celetuk Ai saat menunggu pesanan datang.
“Ariel? Udah basi ah. Sekarang sama Justin Bieber gue.” Kata Vika asal.
Berbagai obrolan mereka perbincangkan saat di kantek. Usai menghabiskan pesanan mereka masing-masing, Vika pun membayar pesanannya-nasi gila.
“Kamu Vika, ya? Tadi ada cowok ganteng yang bayarin buat cewek yang namanya Vika. Tapi dia minta nomor handphone kamu aja.” Seru Ibu-ibu penjual nasi gila di kantek.
“Hah? Salah orang kali, Bu. Bukan saya orangnya. Lagian buat apa pake nomor Handphone. Pasti cowok itu mau ngisengin Saya. Yang mana sih, Bu, orangnya?” Vika syok.
“Aduh! Kamu gak usah takut diisengin. Kalo diesingin juga gapapa. Orangnya juga ganteng.”
Karena bujukan Ibu penjual nasi gila Vika akhirnya menuliskan nomor handphonenya.
“Penasaran deh, siapa sih tuh cowok. Kaya gimana ya orangnya? Tapi gapapalah. Itung-itung dia bisa bikin gue ngelupain sejenak tentang Zulfikhar.” Gumam Vika.
©©©
Saat Vika kembali ke kelas, sebuah sms masuk dari nomot handphone yang tidak dikenalnya. “Siapa nih?” Vika berpikir. Ia pun langsung membuka. Di layar handphonenya tampak: Hei, lo Vika ya? Anak Akuntansi?
“Oii, ada Bu Ida.” Seru Lucky yang masuk ke kelas. Anak-anak pun segera kembali ke tempatnya masing-masing. Vika pun membalas. “Iya anak akuntansi.”
Vika menanggapi sms itu dengan dingin dan ia langsung menyimpan handphonenya dan fokus pada mata kuliah Akuntansi Keuangan. Vika tidak menyentuh sedikit pun handphonenya selama perkuliahan berlangsung. Sampai setelah selesai, ia baru melihat kembali handphonenya. 1 message dari nomor handphone yang tadi.
“Lo tiap berangkat naik kereta yang jam berapa? Kok akhir-akhir ini gue gak pernah ketemu lo lagi sih di kereta?”
“Siapa lagi nih orang?” seru Vika, membuat perhatian teman-teman ASBOY tersita padanya.
“Siapa, Vik?” tanya Via.
“Lo tau ga nomor ini nih. Ini kayanya nomor cowok yang bayarin gue nasi gila tadi.” Jelas Vika.
“Cowok? Bayarin lo makan tadi?” Ai heran.
“Cowok? Si Ariel mau lo kemanain, Vik?” seru Ria.
Selang beberapa detik, balesan sms pun masuk. “Kenalin gue anak mesin. Satu kampus sama lo juga. Temen-temen gue biasa panggil gue Panjul.”
Setelah membaca sms itu, Vika tertawa terbahak, mendengar nama cowok itu Panjul-nama yang aneh menurutnya. Dengan segera Vika me-reply.
“Panjul? Haha... lucu banget sih nama lo.”
“Itu nama beken gue. Oia, rmh lo dmn sh? Lo kalo naik kereta dari stasiun mana?”
“St. Manggarai. Lo?” Sebuah balasan sms langsung masuk. “Ps. Minggu.”
Membaca Pasar Minggu mengingatkan Vika pada Zulfikhar. Ia pun merasakan broken heart lagi. Baru sebentar bahagia dengan cowok yang bernama Panjul, Vika harus teringat pada Zulfikhar yang membuatnya bad mood lagi. Ia pun tak menanggapi sms dari Panjul lagi.
©©©
Malam hari, saat Vika mengerjakan tugas Akuntansi Biaya, handphonenya bergetar. 1 message masuk. From Panjul : Lagi apa?
“Kerjain tgs. Oia, lo bisa tau nama gue drmn?” tanya Vika.
“Kita kan sering ketemu di kereta dan gue sering liat lo bareng temen lo waktu nunggu bis kampus. Dan gue denger, temen lo sering panggil lo Vika.”
“Oh gitu. Tp serius, gue ga tau lo orangnya kaya gmn.”
“Masa sih? Perasaan gue sering ng-gap lo liatin gue deh. Makanya bsk lo kaya biasa dong dtgnya. Coz akhir-akhir ini gue jarang ketemu lo di kereta. Ketemu di gerbong 4 set pertama ya.”
“Oke..”
Vika tak sabar menanti hari esok. Ia amat penasaran tentang sosok Panjul yang ternnyata sering memperhatikan dirinya di kereta. Hal itu sangat membuat Vika surprise dan merasa dirinya special. Esoknya Vika dandan tak biasanya.
“Gila ya gue. Padahal gue belum liat Panjul kaya gimana. Klo ganteng sih gapapa. Tapi kalo jelek, gimana dong? Tapi gapapa lah. Buat Have fun aja. Daripada mikirin Zulfikhar yang ga jelas. Lagi pula, kalo misalnya gue bisa jadian sama Panjul, gue kan bisa manas-manasin Zulfikhar.” Vika tersenyum penuh kemenangan saat bercermin.
Dengan semangat Vika menanti kereta pukul 6.30. Ia merasa gugup dan terus bertanya-tanya dalam hatinya. Tiba-tiba ia ingat suatu hal. Soal Zulfikhar. Vika takut ia akan bertemu Zulfikhar di kereta. Ia pun memutuskan untuk menanti Panjul di ujung gerbong 4 agar jika bertemu Zulfikhar ia bisa lari ke gerbong depan. Stasiun demi stasiun dilewati. Hingga kereta mulai memasuki stasiun Pasar Minggu, jantungnya berdegup kencang. Setiap orang yang berdiri di stasiun Pasar Minggu Vika perhatikan. Sampai kereta berhenti, Vika terkejut melihat Zulfikhar yang bersiap naik. Dengan segera, Vika pun langsung pindah ke gerbong depan. Sebuah sms masuk, dari Panjul. “lo dmn?”
“Sorry. Tadi gue pindah ke gerbong dpn. Abs ada cowok rese, nyebelin di gerbong 4. Lo pake baju apa?” balas Vika.
“Yg mana orangnya? Biar gue kasih pelajaran dia. Gw pake abu-abu polo.”
Sampai kereta berhenti di stasiun kampusnya, Vika yang takut bertemu Zulfikhar buru-buru keluar stasiun. Ia pergi ke rental komputer untuk ngeprint tugasnya dulu. Di tempat rental itu, Vika bertemu Selly dan Yuli. Meski malas, ia mencoba bersikap biasa pada mereka. Tiba-tiba Yuli celetuk.
“Sel, gimana Panjul? Dia bukannya udah dateng jam segini?”
Mendengar nama Panjul, membuat Vika syok. “Apa-apaan sih Selly. Kemaren udah ngerebut Zulfikhar, sekarang dia mau rebut Panjul lagi.” Gerutu Vika.
“Cie Selly. Bukannya cowok lo namanya Zulfikhar ya? Kok sekarang jadi Panjul sih?” sindir Vika yang jealous .
“Ih, Zulfikhar itu nama panggilannya Panjul.” Kata Selly tersipu malu.
Deg. Vika diam, speechless. Ia mencoba mencerna sedikit kata demi kata yang menurutnya sulit dipercaya. “Oh God. Jika ini mimpi, please jangan bangunin aku. Ini gak mungkin. Kalo Panjul itu Zulfikhar, berarti kemarin itu gue sms-an sama cowok keren yang di stasiun pasar
Minggu.”
Vika pun berjalan menuju halte. Setiap langkahnya membuat jantungnya makin berdegup kencang. Saat belokan menuju lorong ke halte, Vika memperlambat langkahnya, menyiapkan mentalnya untul bisa melihat Panjul yang ternyata Zulfikhar. Vika menyipitkan matanya, melihat seorang cowok berkaos polo abu-abu, memakai gelang yang sama dengannya, berkulit putih. Ia yang bersandar di tiang lorong berdiri disamping Selly yang sudah pergi lebih dulu dari Vika. Vika tidak berani mendekati Zulfikhar. Ia pun hanya berdiri terpaku melihat kearah mereka. Bis kampus yang kemudian datang, membuat Selly mengajak Zulfikhar untuk naik.
“Lo duluan aja. Gue masih nunggu seseorang.” Tolak Zulfikhar yang terdengar Vika.
Selly pun pergi meski dengan berat hati meninggalkan Zulfikhar. Zulfikhar yang kini sendiri melihat Vika yang duduk di pinggiran lorong samping tiang. Ia pun mendekati Vika.
“Gak naik?” suara Fikhar yang ngebass dan gentle mengagetkan Vika yang berniat ngumpet dari Fikhar. Belum sempat melihat kearah suara itu, tiba-tiba Fikhar duduk disampingnya. Vika pun mati gaya.
“Hhmm, nanti aja. Lo sendiri ga naik?” Vika grogi.
“Abis gue liat lo masih duduk. Lagian kan gue yang minta lo buat dateng kaya biasanya.”
Vika yang grogi tak berani sama sekali menoleh ke arah Fikhar di sebelahnya, apalagi menatap tatapan matanya. Mereka diam. Suasana menjadi kaku. Beberapa saat kemudian Fikhar memulai pembicaraan.
“Vika, lo gak suka ya sama gue? Kok dari tadi gue ngomong lo ga natap mata gue sih?” tanya Fikhar. Deg. Hal itu membuat Vika speechless.
“Gue suka sama lo kok, Fik. Bahkan lebih dari suka. Gue masih gak percaya aja, kalo Panjul itu ternyata cowok keren di stasiun Pasar Minggu yang selama ini gue incer.” Jelas Vika.
“Oh jadi bener feeling gue, kalo selama ini lo sering perhatiin gue kan.” Zulfikhar tersenyum.
“Iya deh, Panjul alias Zulfikhar, cowok keren di stasiun pasar minggu yang ganteng.” Ledek Vika.
Mulai saat itu, Vika berteman dekat dengan Fikhar. Setiap di kereta maupun bis kampus mereka selalu bareng. Hal ini benar-benar tak pernah terbayang sama sekali dalam benak Vika. Pada akhirnya sebuah mimpi akan menjadi sebuah kenyataan dan akan indah pada waktunya.
© SEKIAN ©
THIS STORY IS INSPIRED BY SOMEONE SPECIAL IN MACHINE ENGINEERING STATE POLYTECHNIC OF JAKARTA
On Monday, exactly on February 22, 2010
All my attention confiscated by him
He is a handsome man that I always see on the train
He is a handsome man that takes non-AC economy-class trains from Pasar Minggu station
He is a handsome man that gives me a spirit to come to campus everyday
He is a handsome man that very cool, wise, mature and smart
He is a handsome man that makes me fall in love one more time
I’ve never believe. I’ll meet with someone like him at PNJ
I’ve never believe, there’s still a handsome man in this world like him
I’ve never believe that I could………………….
I HOPE YOU KNOW THAT I ©©© YOU
Comments
Post a Comment